creative writing short story khaula
Kesempatan
Zulaikha akbar , merupakan nama kepanjanganku.
Cukup indah bukan, ayah ku memberi namaku Zulaikha karena beliau menyukai kisah
cinta antara nabi yusuf dan Zulaikha. Maka dari itu ayahku menamaiku Zulaikha. Aku
berasal dari keluarga besar, benar sekali aku adalah anak ke 5 dari 5
bersaudara. Tetapi dari ke empat kaka ku, hanya aku yang belum berkeluarga.
Bukan tanpa sebab, aku masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas yang
ada di kota hujan ini.
“ Zulaikha, cepat turun kebawah sayang, bunda
udah masakin kamu sarapan.”
Benar sekali, itu adalah suara bunda ku, bunda
yang paling bawel, dan cerewet, namun penyayang kepada semua anak anaknya
terutama aku. Akhirnya aku pun menuruni anak tangga dan bergegas ke meja makan
untuk makan Bersama ayah dan bunda. “ kha, tugas akhir kamu gimana? Udah
selesai belum?” tanya ayah kepada aku, karena memang aku saat ini sudah
menginjak semester terakhir dan sedang menunggu untuk wisuda. “ ayahhhhh,
mangkanya jangan sibuk ngurusin kerjaan kantor mulu, sampe lupa anaknya udah
sidang tinggal nunggu wisuda.” Ya begitulah ayah ku, jika sudah sibuk lupa
dengan semua kegiatan anak anak nya. “ masyaallah , ternyata putri bungsu ayah
sudah mau selesai kuliah nya, tinggal kerja. Soal kerja kamu jangan bingung,
biar kerja di kantor ayah aja, sudah pasti kamu ga akan mikirin apa apa lagi.”
Jujur aku sangat membeci omongan ayah ku jika
sudah menyangkut pautkan dengan kata “tenang, ada ayah.” Bukan berarti aku
membeci ayah ku jika dia ingin menolong ku. Akan tetapi, sampai kapan aku terus
dikekang seperti ini. Mungkin menurut kalian menjadi aku itu sangat
menyenangkan, namun pada kenyataan nya menjadi aku sangat amat menderita.
Selama 22 tahun aku hidup di dunia yang fana ini, tidak ada satu pun hal- hal
yang aku jalani dengan keinginan ku. Mulai dari aku menduduki bangku TK, SD,
SMP, SMA, bahkan di bangku perkuliahan.
Berbeda dengan ke empat kaka ku, mereka semua menjalani
kehidupan Pendidikan sesuai apa yang mereka mau dan mereka cita-cita kan.
Setiap kali aku menanyakan alasan kenapa aku selalu dituntut, mereka akan
menjawab bahwa aku adalah anak bungsu, dan sudah ada pengalaman dari kaka –
kaka ku. Menurutku sudah menjadi hal kuno sekali, jika aku selalu di tuntut
seperti ini, sedangkan mereka tidak paham betul dengan apa yang aku mimpikan
dan cita-cita kan. Terkadang aku ingin kabur dari penjara tak ber jeruji ini,
tapi bagaimana dengan nasib kedua orangtua ku. Mereka akan merasa gagal telah
mendidik seorang anak seperti ku, mereka akan kecewa dengan apa yang sudah aku
jalani.
Jam sudah menunjukan pukul 09.00 , aku pun
langsung bergegas Kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur dan yang
lainnya. Ayah sudah berangkat kerja lagi, sesaat setelah aku, ayah, dan bunda
sarapan Bersama. Karena hari ini aku sudah tidak ada lagi kegiatan di kampus,
niatnya aku akan menonton bisokop seorang diri. Jika ada yang menayakan kepada
ku dimana letak teman teman ku, maka akan ku jawab, mereka berada di posisi nya
masing-masing. Mereka semua hanya membutuhkan ku disaat mereka butuh saja,
tetapi aku tidak terlalu menghiraukan dan memikirkan nya. Toh jika mereka sadar
atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku, mereka akan membalik kan badan
mereka Kembali dan Kembali ke hadapan ku dengan embel-embel kalimat “ kha, lu
sibuk ga? Gua lagi stress nih, butuh temen cerita, dan gua rasa lu adalah orang
yang tepat untuk gua bercerita.” Apakah aku dendam kepada mereka? Atau aku
merasa kesal?. Dulu mungkin akan aku jawab “iyah” namun seiring berjalan nya
waktu saat ini aku akan mejawab “ tidak.” Tak ada gunanya membeci seseorang
yang mana tidak ada keterlibatan antara kehidupan ku dengan mereka semua.
Setelah selesai bersiap- siap untuk berangkat,
aku Kembali turun ke lantai bawah untuk berpamitan kepada bunda. “ bunnnnn,
Zulaikha keluar dulu yah, mau me time , because Zulaikha sudah boring diam
menyendiri di rumah seorang diri, apalagi tak ada sang pangeran yang menjemput,
lebih baik Zulaikha pergi saja seorang diri.” Ucap ku kepada bunda yang cantiknya tiada tara melebihi
bidadari-bidadari syurga kalau kata ayah. “ Zulaikha…!!! Kebiasaan deh bunda
nya tuh gak budeg, lagi di rumah ini tuh bukan di goaaaa, bunda juga ada disini
kenapa sih mesti teriak-teriak ah, mana dari atas lagi. Ngomong nya yang
baiklah sayang.” Ucap sang bunda tercinta kepada putri bungsu nya. Kebiasaan
anak bungsu nya ini yaitu, berteriak di rumah dan selalu dimarahi oleh bunda
adalah bumbu-bumbu keramaian di rumah keluarga akbar ini. “ hehehehe, saya atas
nama Zulaikha akbar binti akbar ahmad meminta maaf atas kesalahan yang saya
lakukan karena telah berteriak kepada sang bunda tercinta ini, saya harap bunda
memaklumi anak bungsu nya yang cantik serta sholehah ini.” Dibalik sikapnya
yang ceria, bawel, cerewet, pecicilan, heboh, dan lain nya. Percayalah diluar sana
dia sangat amat kalem, pendiam, namun tidak sampai menyendiri di pojokan, dulu
iyah tapi sekarang tidak. Ia sekarang bisa sedikit bersosialisasi, karena
jurusan yang dia pilih di perkuliahan yaitu psikolog, jadi tidak ada alasan
untuk tidak ber sosial.
“ Zulaikha, udah rapi aja kamu, mau kemana
sih.”
“ yehhh, bunda nih, Zulaikha kan tadi dah izin
ama bunda, kalau zuaikha ini mau nonton bioskop.”
“ sendirian aja kamu ? apa samaaaaa.” Goda sang
bunda nyaa.
“ ahhhh bunda apa sih, orang Zulaikha sendirian
aja kok, lagi siapa sih yang bunda maksud.”
“ iyah deh percaya, yaudah sana hati-hati yah
kamu. Jangan pulang malem-malem, ayah tau, nanti bunda yang dimarahin.”
Usia bukan batas kebebasan bagi Zulaikha,
baginya umur boleh 22 tetapi tentang perizinan main, seperti anak smp yang menginjak
tahap remaja. “ bunda, udah deh Zulaikha sekarang 22 tahun, udah bukan remaja
lagi, tapi dewasa, Zulaikha paham ko.” Setelah perdebatan tiada tara antara ibu
dan anak, akhirnya Zulaikha pun bergegas pergi meninggalkan rumah dan bunda nya
untuk pergi ke bioskop.
Hari ini hari rabu jadi tak banyak orang yang
mendatangi bioskop, mungkin saja penuh tetapi bukan disaat jam aku menonton.
Bau khas yang ku hirup, hah sungguh sangat aku rindukan sudah pasti asal bau
ini terletak pada mbak-mbak berbaju putih itu. Popcorn, benar sekali. Aku
memutuskan untuk membeli satu popcorn ukuran sedang dengan satu minuman red
velvet. Aturan yang benar itu membeli tiket dulu baru membeli makanan nya
bukan. Tapi tidak berlaku bagi aku Zulaikha akbar, karena menonton nya saja
dadakan dan bingung akan menonton judul yang mana. Akhirnya aku pun membeli
makanan ringan nya dulu sambil memikirkan film apa yang akan aku tonton, lalu
membeli tiket untuk menonton nya.
“ mau nonton apa kak?” tanya perempuan berbaju
kemeja berwarna putih kerudung berwarna krem dan menggunakan bawahan rok batik, lengkap dengan hiasan make up cantik namun tidak tebal yang menjadi daya
tarik dirinya. “ dear allah yang jam
13.00.” setelah membeli dan mengambil tiket , lantas aku pun bergegas masuk ke
dalam studio karena pengumuman pintu studio yang akan aku tempati sudah di
buka. Banyak pasang mata yang mengarahkan pandangan nya kepadaku. Apakah salah
jika aku menonton bioskop hanya sendiri, dan tidak membawa teman menonton atau
Bersama pasangan layaknya orang yang ada di sekitar ku. Ah sudahlah, lagi pula
aku bersikap bodo amat atas tatapan itu. niat awal ku ingin menonton hanya
sebagai penghibur, pengisi waktu luangku.
Ternyata menonton seorang diri bukan masalah
besar. Aku merasa enjoy dan yahhh senang seperti biasa nya. Jangan harap
setelah menonton aku akan langsung pulang ke rumah. Jika kalian menebak itu,
maka tebakan kalian salah. Tentu ini kesempatan emas ku. Lantas aku melanjutkan
agenda seharian full dengan diri aku sendiri ku tentunya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00
dan aku masih di dalam mall yang aku tuju seorang diri. Karena aku ingin
setelah sampai dirumah ingin bersantai saja, akhirnya aku pun memutuskan untuk
shalat di dalam mall tersebut.
Tetapi sesampai nya di rumah.
“ kha, sudah jam berapa ini, inget waktu gak
sih kamu kalau main, kebiasaan kamu gini nih, suka lupa waktu pulang, jam
segini baru sampe rumah. Keluar dari jam berapa kamu.?”
Sudah tidak aneh jika aku pulang melebihi waktu
magrib, maka akan disambut dengan kata- kata yang baru saja diucapkan oleh
orang yang satu satunya berkuasa di rumah ini. Siapa lagi kalau bukan bapak
akbar satu ini. Kebebasan waktu pun tidak di dapatkan oleh ku sebagai anak
bungsu. Ntah dosa apa yang telah ke empat kaka-kaka ku lakukan, hingga imbas
nya malah kepada anak terakhir yang tidak berdosa ini. Siapa lagi kalau bukan
aku, Zulaikha akbar binti akbar.
“ yahh, ayah tu sebenernya mau apa sih dari
Zulaikha, semua apa yang ayah omongin selalu Zulaikha turuti, ayah suruh
Zulaikha gini, Zulaikha turuti, ayah suruh Zulaikha kaya gitu, Zulaikha turuti.
Bahkan disaat Zulaikha mempunyai celah untuk terbebas dari perintah ayah yang
Zulaikha pikir, terus terusan dituju ke Zulaikha, ayah bahkan masih enggak
ngasih celah buat Zulaikha ber ekspresi seperti kebanyakan orang.” Nada ku
mulai tak bisa disebut wajar untuk sekarang. Karena sejujurnya tak seharusnya
aku menggunakan nada berbicara seperti itu kepada ayah ku yang notabene nya
sebagai orang tua ku. Bisa-bisa jika orang melihatnya, aku akan disebut sebagai
anak durhaka, walau pada kenyataan nya sebenernya aku sedang membela apa yang
selama ini aku pendam. Bukan karena hal- hal yang bersifat negative.
“ maksud kamu apa? Kamu melawan ke ayah?”
lihat, aku bukan melawan, hanya saja aku berpendapat tentang apa yang selama
ini aku alami.
“ ayah, zulaikha masuk jurusan psikolog,
Zulaikha selalu mendengarkan curhatan orang, Zulaikha selalu memberi saran apa
yang sedang menjadi topik masalah dari setiap pasien Zulaikha. Tapi disisi lain
Zulaikha merasa tidak pantas, dan sedih. Apa yang Zulaikha beri kepada mereka
semua, sejujurnya tidak pernah Zulaikha dapatkan dari siapapun, Zulaikha bisa
menjadi pendengar yang baik bagi mereka, tapi siapa yang menjadi pendengar yang
baik bagi Zulaikha. Zulaikha memberi saran masalah kepada mereka, tapi Zulaikha
tidak pernah diberi saran yang baik jika ditimpa masalah. Jadi disini
sebenernya mereka yang membutuhkan Zulaikha, atau Zulaikha yang sebenernya
gilaa.”
Amarah Zulaikha, sudah benar-benar memuncak. “
Zulaikha, ayah belum selesai bicara..!!!”
Panggil ayah nya kepada Zulaikha yang memang
setelah apa yang sudah dia keluarkan Zulaikha langsung pergi meninggalkan
tempat perdebatan mereka tadi. Dan langsung memasuki kamar terindahnya diantara
kamar kamar yang lain kalau kata Zulaikha. “bughhh…!!!” terdengar suara pintu
yang ditutup dengan kencang, yang menandakan bahwa seseorang yang menutup pintu
tersebut sedang benar-benar emosi tingkat tinggi atau level hard.
Menangis? Tentu tidak, entah sudah kebal karena
pengalaman atau memang rasa sedih tertutup oleh rasa kesal. Maka dari itu,
untuk keluar nya saja mungkin terkalahkan oleh amarah. Lagi pula apa yang
menjadi masalah Zulaikha hari ini? Hanya karena dia pulang larut yang menurut
kalian jika dibahas perihal permasalahan tadi itu, ya bisa dibilang belum
larut, benarkan?...
Setelah masuk kamar dengan penuh amarah tadi,
Zulaikha langsung bersih bersih badan, dan ya tentu saja jika sudah di dalam
kamar melihat Kasur, siapa yang bisa menolak lambaian panggilan dari si empuk
satu itu. Mungkin menerima tawaran dari si empuk satu itu bukan masalah, itung-itung
sambil menuggu waktu isya, pikir
Zulaikha.
Sementara itu diluar kamar Zulaikha, masih ada
percakapan antara suami istri yang sedang saling beradu argument.
“ yahh, udahlah, Namanya juga anak muda, lagi
pula tadi Zulaikha juga udah izin sama bunda. Bunda juga percaya sama dia ko
yah, kalo dia gakan ngebohongin kita juga, disaat jadwal sholat juga dia ga
akan tinggalin begitu aja. Dia juga udah 22 tahun yah, apa sih yang mesti
dilarang dari umur segitu. Udah dewasa juga bukan remaja lagi, udah tau mana
yang baik buat dia dan mana yang gak baik buat dia yah.”
Mungkin bisa dibilang ini sebuah belaan dari
sang bidadari tak bersayap di rumah ini, kepada sang pangeran satu satunya di
rumah ini. Benar sekali, kalau aku tidak lupa memberi tahu bahwa keluarga akbar
ini memang didominasi oleh bidadari semua, yang artinya tidak ada anak
laki-laki dikeluarga ini terkecuali ayah Zulaikha, dan mungkin suami dari
kakak-kakak nya Zulaikha.
“ bunda, maksud ayah bilang kaya gitu ya biar
dia mikir gitu loh bund, pergaulan diluar sana itu udah gak bisa dikontrol
lagi. Gak mandang dia dewasa atau remaja, gak mandang dia umur 15 tahun, 17 tahun,
22 tahun atau bahkan yang lebih dari usia Zulaikha. Ayah tuh ingin mendidik dia
dengan benar. Ayah larang dia begitu dan larang begini tuh, bukan untuk ayah,
tapi untuk dia sendiri juga. Ayah ingin dia itu menjadi perempuan yang baik
baik, yang sesuai dengan apa yang sudah menjadi cerminan perempuan seharusnya.
Ingat bund sekali lagi, ayah disini itu bukan mengekang dia,tapi disini ayah
mendidik dia, agar dia menjadi perempuan yang baik. Bukan tanpa alasan tapi
untuk dia juga.”
Namanya juga orang tua, selalu bahasan nya
takut, dan khawatir jika anak-anaknya salah pergaulan, atau bahkan takut
anak-anaknya terjerumus kepada hal yang tidak baik. Tapi percayalah, Zulaikha
bukan anak seperti itu. Terlebih didikan agama sudah ditanakan sedari kecil
baik untuk Zulaikha, atau untuk kakak-kakak nya yang lain.
“ iyah ayah, bunda paham kok, tapi percaya deh
sama bunda, insyaallah atas izin allah dan doa dari kita sebagai orang tua,
mereka semua bukan hanya Zulaikha, tapi kakak-kakak dia yang udah nikah, bukan
termasuk dan tergolong kepada apa yang ayah maksud itu. Kunci nya satu, kita
terus kasih nasehat nasehat buat mereka aja cukup kok. Lambat laun juga mereka
bakal mikir sendiri yah. Yang pasti tugas kita sebagai orang tua sudah
terpenuhi.”
Tambahan dari bunda untuk menghindari fikiran
negative sang suami untuk sang anak bungsu nya ini.
“ mending sekarang kita istirahat aja, besok
juga pasti udah biasa lagi kok.”
Setelah perdebatan yang bisa dibilang menguras
emosi antara ayah dan aku tadi. Tak terasa waktu sudah larut, setelah sholat
isya tadi, aku sempat melakukan aktivitas rutin ku sebagai seorang perempuan
pada umumnya. Apalagi kalau bukan
skincare. Di zaman yang bisa dibilang generasi z ini percayalah tidak ada satu
perempuan pun yang tidak menggunakan skincare. Benar bukan? Jawab jujur untuk
kalian para kaum hawa di dunia ini. Bahkan aku bingung, untuk anak di usia
belasan saja sudah ada skincare nya. Dulu pada zaman aku, aku tidak pernah
mengenal apa itu skincare, setelah menginjak bangku kuliah, dan status ku
berubah yang asalnya siswa menjadi mahasiswa, barulah aku tau skincare itu
seperti apa. Ternyata bukan hanya cuci muka asal saja, ada tahapan dan tatacara
yang harus diikuti, dan dipenuhi. Yahhhh memanglah aku benarkan bahwa zaman
sekarang memang lah zaman serba maju. Bahkan ponakan ku saja yang masih bayi
sudah ada skincare khususnya. Aku jadi memikirkan dua kali lagi dan
mempertimbangkan antara menikah dan mempunyai anak. Pengeluaran yang begitu
banyak sudah membuatku bergidik. Akan aman jika aku berjodoh dengan bos besar,
namun paitnya jika bukan? Berabe bukan.
Ah sudahlah, mengapa aku membahas tentang per
skincare an ini. Aku bukan ahlinya, dan aku juga sedang tidak mempromosikan
sebuah produk. Jadi mari kita selesaikan
bahasan kita mengenai skincare ini dan lanjut tidur saja. Sudah cukup tentang
hari ini, nampaknya dibalik kata Bahagia itu, ya tidak selama nya akan abadi,
pasti saja selalu ada ujung masalahnya.
Hari-hari pun sudah berlalu, perdebatan antara
ayah dan anak bungsu nya itu sudah berakhir damai. Lagipula kesalah pahaman,
perdebatan, atau apalah itu Namanya di lingkup keluarga itu, bukan sesuatu yang
aneh, dan memang selalu ada sebagai penghias , bukan sebagai penghalang
pemandangan sebuah rumah.
Ohh iyah, kalian tau, hari ini dirumahku sedang
kumpul semua kakak-kakak ku beserta suami dan anak-anaknya yang imut ,
menyebalkan, namun tetap sholeh dan sholehah ini. Eitsss tapi bukan ada acara
lamaran ku yah, jika kalian berfikir dan menenbak seperti itu. Kalian sangat
amat salah besar. Besok adalah hari wisuda ku, sudah dapat dibayangkan betapa
riwehnya keluarga ku, mulai dari ayah, bunda, kakak-kakaku, kakak-kakak ipar
ku, dan ponakan-ponakan tercintaku ini. Ramenya mereka, ribetnya mereka, sudah
seperti akan ada acara pernikahan , padahal ini hanya acara wisudaku saja, yang
mana jika kalian tau alur wisuda itu seperti apa, yaaa pastilah akan berfikir “
ya allah niat bat keluarganya.”
Yang masuk kedalam Gedung itu hanya aku dan
perwakilan keluargaku saja, itu pun hanya satu orang, sisanya mau tidak mau
harus menunggu diluar. Sungguh aku sudah membayangkan, betapa kasian nya
kakak-kakak ku ini nantinya. Tapi mau bagaimana pun meraka seperti ini , ya
karena mereka antusias dan senang atas pencapaian akhir ku ini. Apalagi aku
adalah anak terakhir. Tidak bisa dipungkiri bagaimana lega dan bebas nya nya
nafas ayahku saat ini. Beliau telah berhasil melahirkan kelima anaknya menjadi
sarjana semua, walaupun pada kenyataan nya, kakak-kakak itu menjadi ibu rumah
tangga semua. Bukan atas keinginan mereka, tetapi atas arahan dari suami suami
mereka, yang mana arahan atau perintah suami itu mau tidak mau harus dipenuhi
dan dilaksanakan. Syurga mereka bukan lagi terletak pada bunda, tetapi pada
suami mereka masing-masing.
“mityyyyyyyyyy, kok gak buka pintu kamar nya
sih, aku kan kangen sama mityy, emang mityy gak kangen sama akuu?” teriak bocah
lelaki diluar pintu kamarku. Ahh jika sudah ada pasukan bocah bocah itu, pasti
saja selalu membuat kamar ku berantakan, seperti kapal pecah. Satu waktu pernah
ponakan manis ku ini bermain Bersama di kamarku, habis sudah satu botol shampoo
dan pecah botol parfume,skincare ku. Alhasil, kamarku dipenuhi dengan aroma wangii
yang terlalu berlebih, sampai-sampai aku harus mengungsi ke kamar sebelah.
Karena menghirupnya saja membuatku pusing. Ingin sekali aku marah kepada anak
anak yang lucu itu, namun apalah daya, tak ada guna nya juga memarahi mereka.
Mungkin aku arahkan dan lebih ke memberi wejangan kepada mereka, apa apa saja
kesalahan mereka, dan mereka harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah
mereka lakukan. Paling tidak jika kita melakukan kesalahan, jangan lupa untu
meminta maaf atas apa yang sudah kita lakukan itu. Ini bukan perihal barangnya
tetapi, tanggung jawab dari diri mereka.
“ apa sihhhhh khawarijjjjj anak ku yang ganteng
nya masyaallah, yang sholehnya masyaallah, yang pinter dan cerdas nya
masyaallah, yang kelakuannya nauzubillah tapi mityyy sayang ini.” Begitulah aku
soal ke friendly an jangan diragukan lagi. “ kangen gak mesti kudu masuk ke
kamar mity yah, ntar mitty berabe lagi beresin kamar hasil karya mu itu.”
Akhirnya Zulaikha pun bergegas keluar Bersama ponakan nya dan turun kebawah
untuk berkumpul dengan anggota keluarga yang lainnya.
Jangan aneh, karena pernah dibahas bahwa
keluarga Zulaikha itu kelurga besar, jadi sekalinya ada acara perkumpulan
selalu saja ada acara bakar bakaran, makan Bersama atau bahkan sekedar
suki-sukian. Bahasan tiap bahasan keluar dari mulut masig masing sang kakak
kepada sang adik, antara kakak ipar dan adik ipar.
“dek, gimana nih setelah lulus?” tanya suami
dari kakak ke tiga ku
“ maksudnya gimana kak? Ya alhamdulillah, of
cours seneng banget, karena ya udah terbebas dari dosen dosen yang masyaallah
banget lah semangat mengajarnya tuh, apalagi dosen yang mengharuskan Zulaikha
untuk bergadang tiap harinya. Ah itu kaya udah deh alhamdulillah banget sih aku
kak.”
“ hahaha, dasar kamu nih. Tapi bukan itu yang
kaka maksud. Kedepannya kamu mau kaya gimana nih?.” Ya begitulah sebenarnya
Zulaikha sudah paham betul tujuan arah
pembicaraan itu kemana.
“ ya kerja lah kak, apalagi.”
“ nikah dek nikah, gimana tuh kalau itu, udah
ada calon kah atau belum nih, masa iyah perempuan sholehah kaya zulaikha akbar
ini gak ada yang naksirin.”
“ aduhhhh, kak ahmad mulai deh, bahasan nya
terlalu jauh ah, Zulaikha males nanggepinnya, baru juga mau wisuda besok, udah
ditanya kearah sana. Lagi kan Zulaikha juga mau happy happy dulu gitu.”
“ nah kalau belum kakak kebetulan punya kenalan
lelaki yang cocok banget buat kamu, siapa tau kalian emang berjodoh dan ya
cocok juga.” Nah kan sudah ku tebak arah main nya kemana.
“ kak ahmad yang baik hati dan rajin menabung,
serta penyayang anak dan istrinya. Udah deh bahasan nya, tentang jodoh pokoknya
udah deh, kita skip dulu yah. Mending sekarang kita rayakan dulu pra wisuda
Zulaikha buat besok nih okeh gak.”
Pada akhirnya semua berenti membahas terkait
dengan perjodohan ini. Dan mereka melanjutkan kegiatan have fun keluarga
mereka. Namun Sebagian kaka nya ada juga yang sudah masuk kamar, sekedar
meniduri anak anak nya yang masih bayi karena ini sudah waktunya bagi para
malaikat kecilku beristirahat. Aku memang belum menikah, dan mempunyai anak,
tetapi kehadiran keponakan keponakan ku sudah seperti anak bagi aku.
Keesokan harinya, Zulaikha sudah tampil dengan
riasan wajah cantik simple, namun sangat pangling kalau kata orang orang , dan
ini bukan hasil riasan MUA. Ini adalah hasil kreasi keahlian tangan Zulaikha
sendiri, menurutnya menyewa MUA sangat amat menghamburkan banyak uang, walau
pada kenyataan nya ya dia tinggal menggesek uang tersebut di ATM nya. Namun
tetap saja, selagi kita bisa dan mampu
untuk melakukannya sendiri, mengapa harus kita mengandalkan orang lain. Itung
itung iseng dan punya pengalaman baru juga.
kebaya warna pastel yang dia kenakan merupakan
bekas kebaya pertunangan kakak nya yang keempat. Seperti yang sudah dikatakan
di atas, Zulaikha itu anaknya hemat, dan tidak ambil pusing, selagi ada dan
masih bisa dipakai, kenapa tidak kita memanfaatkan nya lagi.
“ masyaallah tabarakallah, anak bunda cantik
banget siiii, bundanya siapa sih sampe anaknya bisa secantik ini.”
Halah selalu saja seperti itu bahasan nya,tapi
bukan berarti aku risih, namun itu sudah menjadi pernyataan umum orang-orang
bukan. “ ihh bundaaa, udah deh yuk kita berangkat aja, biar kakak-kakak dan
para bontot nya menyusul nanti aja, kalo ditunggu nanti Zulaikha telat.”
Acara demi acara pun telah dimulai, pemanggilan
para wisudawan pun sudah dilaksanakan. 3 jam lamanya acara wisuda ini
berlangsung. Setelah acara wisuda ini selesai, lantas Zulaikha dan keluarga nya
pun berfoto Bersama di salah satu studio foto ternama di kota bogor ini.
Hah, sungguh melelahkan acara hari ini. Tapi
walaupun melelahkan, agenda hari ini pun cukup mengasikan. Dari mulai awal
hingga akhir. Sampai pada akhirnya, kebagiaan itu tidak lama bersemi di
kehidupan ku.
“ Zulaikha, kalau sudah selesai tolong turun
kebawah sayang, bunda ayah dan kakak kamu ingin membahas sedikit masalah.” Ya
rabb cobaan apalagi yang akan engkau serahkan kepadaku sebagai hamba yang lemah
seperti ini. Sesal ku dalam hati setelah mendengar ucapan dari bunda.
Setelah semuanya selesai dan aku sudah bersih
bersih badan, aku pun memutuskan untuk turun kebawah dan berkumpul Bersama
keluarga yang lain.
“sayang, kamu tau kan bunda sekarang udah bukan
bunda yang dulu lagi, bunda yang sehat, bunda yang bugar. Tetapi saat ini bunda
sudah memiliki permasalahan dalam Kesehatan bunda ini. Kamu tau, bunda sudah
mengidap penyakit ini sudah lama. Bahkan masa-masa SMA mu dulu di isi dengan
hari-hari Bersama bunda di sebuah rumah sakit yang bahkan kita berdua pun belum
tau tata letak kota itu seperti apa. Tadi sekitar beberapa jam yang lalu, bunda
di informasikan oleh pihak rumah sakit sana, dan diharuskan untuk berobat
Kembali lagi, karena jujur hasil dari yang lalu memang tidak membuahkan hasil
yang baik. Dan disini bunda sudah berdiskusi dengan yang lain, perihal siapa
yang akan membantu bunda. Dan sesuai kesepakatan Bersama juga, tanpa,
mengurangi rasa ke tidak enakan bunda ke kamu. Bunda harap kamu mau membantu
dan menolong bunda seperti dulu lagi. Mengingat yang lain sudah mempunyai
tanggung jawab masing-masing.”
Sungguh, kalimat ini , kota, bahkan rumah sakit
nya saja masih menjadi trauma ku. Dan sulit untuk dihilangkan, walaupun sudah
bertahun-tahun lamanya. Aku tidak masalah, namun bagaimana dengan tanggung
jawab kakak-kakak ku yang lain. Setiap ada masalah seperti ini, selalu aku yang
diandalkan, selalu aku yang dijadikan alasan mereka. Bahkan untuk inisiatif ayah
ku pun tidak ada. Lantas jika sudah seperti ini, dan sudah diberi tanggung
jawab seperti ini, aku bisa apa? Menolak nya pun tidak tega, jujur jika ada
hal-hal yang tidak mengenakan seperti ini, mereka semua selalu melimpahkan nya
kepadaku. Bukan nya tidak mau, namun aku mempertanyakan tanggung jawab kakak
kakak ku yang lain. Oke aku bisa mentolerasikan nya untuk sekarang. Tetapi
beberapa tahun yang lalu? Mereka kemana.
Mau tidak mau, suka tidak suka, terima atau
tidak. Pada intinya aku memang harus pergi, bagaimana pun juga, selain aku,
maka siapa lagi yang akan menolong bunda. Bunda dan aku akan berangkat pada
hari rabu nanti. Entah menggunakan kendaraan pribadi, atau menggunakan jasa
travel.
“ insyaallah, akan Zulaikha bantu, semampu dan
sebisa yang Zulaikha bisa.”
Aku harus memulainya dari nol, pikirku. Setelah
diskusi keluarga itu, lalu aku langsung beranjak ke kamar. Bukan karena murung,
hanya saja aku ingin istirahat karena kegiatan tadi sangat amat membuatku Lelah.
Sesampainya dikamar aku bukan beranjak ke Kasur melainkan duduk dan menghirup
udara malam di balkon kamar ku, dengan pemandangan rumah rumah tetangga tetangga
ku. Haaaa….. udara ini, merupakan udara yang aku rindukan, udara sejuk setelah
hujan memang sangat amat menjadi pendukung waktu merenungku. Sambil membawa
sebuah buku dan bolpoint. Disaat -saat seperti ini aku selalu menulis keluh
kesahku di dalam sebuah kertas berwarna putih.
Hari rabu pun telah datang, aku dan bunda sudah
dalam perjalanan menuju kota yang memiliki Gedung sate. hari ini jalanan
sedikit macet, ya kapan sih bandung gak macet, tanya ku pada diriku sendiri. Lalu
Lalang dan banyaknya orang, memakai seragam, dan tidak memakai seragam, menjadi
penghias pagi hari di kota ini. Aku dan bunda sudah sampai di salah satu rumah
sakit paling terkenal di kota ini. Padatnya orang di dalam tidak dapat
dipungkiri, sama padatnya seperti di lampu merah yang aku lewati tadi. Baik tua
maupun muda, kalian akan menemui nya ditempat yang aku tuju ini. Baik anak
kecil maupun orang dewasa. Kesedihan ku muncul, iba kupun datang. Jujur dalam
hal seperti ini aku mudah sekali mengeluarkan air mata, bagaimana tidak,semangat
mereka sangat tinggi untuk bisa sembuh seperti dulu kala. Sama hal nya seperti
bundaku ini, bertahun tahun lamanya sampe saat ini semangat bunda sangat tinggi
untuk bisa sembuh, walau selalu digantung harapan oleh dokter disana, itu yang
membuatku merasa kasihan kepada bundaku. Tidak ada imbal balik bagi semangat
juang sembuh untuk bundaku.
“teh, boleh nitip gak anak aku, bentar aja,
kebetulan mau ke ruangan itu dulu sebentar mau konfirmasi buat azhan bentar.” Tanya
ibu ibu muda sekitar usia 24 tahun nan tidak jauh berbeda dengan ku kelihatannya.
“ oh iya teh boleh, gapapa ko disini aja, kebetulan lagi nunggu bunda aku juga
ko.” Azhan merupakan nama yang aku jarang dengar dan juga istimewah sekali. Tetapi
saat aku melihat anaknya aku sedikit terkejut nampaknya azhan ini bukan anak
seperti biasanya, namun dia memiliki keistimewahan diantara anak anak yang lain.
“ aduh teteh, makasih banyak yah mau direpotin sama aku. Ngomong ngomong teteh
kesini berdua aja atau gimana? Asalnya dari mana?” tanya ibu muda ini kepadaku,
karena aku anak psikolog, paling tidak sedikit lebihnya aku paham bagaimana
karakter perempuan ini saat mengajak
mengobrol dengan ku. Penyabar, menerima keadaan apa adanya, ceria, dan selalu
menjalani apa yang sudah menjadi konsekuensinya. “ gak sama sekali direpotin
kok teh, lagi azhan nya juga anteng ko baik banget yah dia, ngerti lagi dimana
gak mau ngeribetin mamahnya. Kebetulan iyah nih aku berdua doang sama bunda,
aku asalnya dikota hujan paham lah yah dimana hehe kalau bukan bogor tercinta.”
Aku memang seperti itu, gampang akrab dengan orang banyak, karena mungkin basic
psikolog ku memang sudah mandarah daging.
“ azhan ini punya kelainan diantara anak-anak
lainya, azhan ini sudah dinyatakan downsyndrome sejak usia nya baru mengijak 3
hari, awalnya aku gak nerimain ini, karena aku sempet mengeluh tentang cobaan
apa lagi yang allah percayakan kepadaku ini. Disaat orang orang diluar sana
sedang kumpul Bersama keluarga nya, ayah ibu ku sudah meninggalkan alam dunia
ini terlebih dahulu sejak usiaku 17 tahun, itu ujian paling terberat yang
pernah aku rasakan. Mereka berdua mengalami kecelakaan, saat sedang melakukan
perjalanan ke suatu tempat. Aku tidak mempunyai adik maupun kakak, aku hidup
hanya sebatang kara. Untungnya ada adik dari ibu ku yang mau mengurus dan
menolongku sampe aku sekarang ini. Tidak membedakan antara aku ponakannya dan
anak kandungnya. Beliau membantu perkuliahanku, ya walaupun tidak sepenuhnya
keinginanku, tetapi aku tetap menjalani nya, karena aku yakin apa yang sudah
adik ibu ku arahkan untuku adalah hal baik bagi aku juga. Belajar menerimaan
keadaan selalu aku pelajari walau pada kenyataan nya ingin memberontak. Lulus kuliah,
qodarulah aku langsung menikah dan yah kebagiaanku sangat amat memuncak, aku
berpikir bahwa sekarang aku tidak sendiri lagi. Tapi kebahagiaan itu semu, saat
aku melahirkan azhan, allah memberi ujian lagi kepadaku yang menharuskan aku
untuk berjuang Bersama suami. Tapi yam au bagaimana lagi, ini sudah ketentuan allah,
aku sebagai hamba nya yang banyak dosa hanya bisa menerima nya dengan ikhlas,
dan menjalani nya dengan penuh senyuman, walaupun lain hati lain juga mulut dan
pikiran.” Cerita ibu muda ini kepadaku, karena mungkin dia hanya ingin berbagi
kisah dan pengalaman nya saja kepada aku. Sesaat setelah dia mengetahui bahwa
jurusan yang aku geluti itu psikolog.
Pengalam ibu mud aini sangat amat membuat pikiran
ku menjadi terbuka. Penderitaan ku selama ini hanya suruhan dna kebebasan saja,
tetapi selama ini setelah aku menjalaninya tidak ada hal hal aneh yang menjadi
imbas nya, malah hal hal positive dari hasil yang sudah diarahkan sebelumnya
dari orang tuaku. Tetapi tetap saja ada sedikit kesalahan menurutku jika ayah
terlalu mengekang ku walau pada intinya ingin anaknya berada di jalur yang
tepat.
Tak terasa, konsultasi bunda dengan dokter pun
sudah selesai, kalian tau keajaiban apa yang allah beri bagi keluarga ku? Bunda
dinyatakan sembuh dari penyakit yang diidapnya. Benjolan kecil yang ada di
ginjalnya sudah ilang, karena atas kuasa allah. Aku pun ikut senang dan gembira
atas kabar ini. Aku langsung memeluk bunda dan merasa tidak menyangka.
Setelah kabar gembira itu, Zulaikha lantas
pergi ke sebuah minimarket terdekat depan rumah sakit unttuk membeli cemilan
dan minuman untuk menjalani perjalanan pulang mereka. Namun sesaat setelah Zulaikha
selesai berbelanja dan akan menyebrang, sebuah mobil melaju kencang dan
sepertinya rem mobil itu rusak dengan spontan dan itungan detik, mobil itu menabrak
Zulaikha yang berada di posisi yang benar.
“ZULAIKHA………..!!!!!!!!” Teriak sang bunda kepada
Zulaikha, orang orang disekitar pun langsung berlarian menolong Zulaikha, siapa
sangka baju putih bersihnya kini ternodai dengan bercak darah yang mengalir
dari tubuh Zulaikha. Zulaikha langsung dibawa masuk ke dalam rumah sakit,
diatas blangkar Zulaikha berucap. “ bunda, Zulaikha takut, Zulaikha gak mau
ditinggal sendiri, Zulaikha mau bareng bareng sama ayah sama bunda. Zulaikha takut
sendiri. Zulaikha mau pulang ajak gak mau disini.”
“ dokterr tolong bantu anak saya, saya mohon.” Ucap
sang bunda sesaat setelah Zulaikha tak sadarkan diri. Akan tetapi, tidak ada
harapan lagi bagi Zulaikha. Percakapan tadi adalah percakapan terakhir antara
ibu dan anak bungsunya itu. Iyaaa, Zulaikha dinyatakan meninggal karena
pendarah di otak nya.
Tidak menunggu lama, jenazah Zulaikha pun
langsung dibawa ke rumah duka. Dan langsung dimakamkan keesekoan harinya. Rasa rindu
yang Zulaikha tinggalkan kepada keluarga nya sungguh sangat menyakitkan, rindu
yang tidak bisa diobati selain hanya lewat doa, teriakan di setiap penjuru
ruangan tidak akan pernah terdengar lagi. Saat bunda masuk ke dalam kamar Zulaikha
, bunda nya disambut oleh sebuah buku yang selalu menjadi tempat curhat anak
bungsu nya itu.
“ sebenernya aku tidak benci keluarga ku, hanya
saja cara keluarga ku mendidik ku kurang cocok untuk aku yang sering memberontak.
Aku sangat bersyukur dilahirkan dikeluarga akbar ini. Walau pun sedikit ada
kekangan tapi itulah ciri khas keluarga ini. Mungkin aku tidak akan menulis di
buku ini lagi, karena sudah cukup keluh kesahku habis, berbarengan dengan sudah
penuhnya isi tulisan dari buku ini. Siapapun diantara kalian yang membacanya,
selamat kalian berhasil menjadi seorang pembaca buku pertama ku. Ada hal yang
perlu kalian tau tentang aku, aku tidak menyukai suasana rame, tetapi aku takut
untuk ditinggal sendiri. Sampai bertemu lagi , dari aku Zulaikha akbar binti akbar.”
Tak terasa air mata bunda nya selalu keluar
begitu saja tanpa budanya sadari, jadi selama ini dia tak pernah mengeluh dan menerima
pendapat itu, kesalahan besar. Dimana sosok seorang bunda pendengar yang baik
bagi anaknya itu. Ternyata kalimat perpisahan di dalam buku itu benar benar
menjadi kalimat perpisahan terakhir bagi Zulaikha.
Tetapi, penyesalahan hanyalah penyesalahan,
tidak dapat diubah. Rasa bersalah semakin menjadi sesaat setelah bunda nya
menjadi curhatan anak bungsu nya disebuah buku.