sebuah harapan, yang muncul dari sebuah kesempatan, akankah semuanya sesuai harapan?
Sebuah harapan
Zulaikha akbar , merupakan nama kepanjanganku.
Cukup indah bukan, ayah ku memberi namaku Zulaikha karena beliau menyukai kisah
cinta antara nabi yusuf dan Zulaikha. Maka dari itu ayahku menamaiku Zulaikha. Aku
berasal dari keluarga besar, benar sekali aku adalah anak ke 5 dari 5
bersaudara. Tetapi dari ke empat kaka ku, hanya aku yang belum berkeluarga.
Bukan tanpa sebab, aku masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas yang
ada di kota hujan ini.
“ Zulaikha, cepat turun kebawah sayang, bunda
udah masakin kamu sarapan.”
Benar sekali, itu adalah suara bunda ku, bunda
yang paling bawel, dan cerewet, namun penyayang kepada semua anak anaknya
terutama aku. Akhirnya aku pun menuruni anak tangga dan bergegas ke meja makan
untuk makan Bersama ayah dan bunda. “ kha, tugas akhir kamu gimana? Udah
selesai belum?” tanya ayah kepada aku, karena memang aku saat ini sudah
menginjak semester terakhir dan sedang menunggu untuk wisuda. “ ayahhhhh,
mangkanya jangan sibuk ngurusin kerjaan kantor mulu, sampe lupa anaknya udah
sidang tinggal nunggu wisuda.” Ya begitulah ayah ku, jika sudah sibuk lupa
dengan semua kegiatan anak anak nya. “ masyaallah , ternyata putri bungsu ayah
sudah mau selesai kuliah nya, tinggal kerja. Soal kerja kamu jangan bingung,
biar kerja di kantor ayah aja, sudah pasti kamu ga akan mikirin apa apa lagi.”
Jujur aku sangat membeci omongan ayah ku jika
sudah menyangkut pautkan dengan kata “tenang, ada ayah.” Bukan berarti aku
membeci ayah ku jika dia ingin menolong ku. Akan tetapi, sampai kapan aku terus
dikekang seperti ini. Mungkin menurut kalian menjadi aku itu sangat
menyenangkan, namun pada kenyataan nya menjadi aku sangat amat menderita.
Selama 22 tahun aku hidup di dunia yang fana ini, tidak ada satu pun hal- hal
yang aku jalani dengan keinginan ku. Mulai dari aku menduduki bangku TK, SD,
SMP, SMA, bahkan di bangku perkuliahan.
Berbeda dengan ke empat kaka ku, mereka semua menjalani
kehidupan Pendidikan sesuai apa yang mereka mau dan mereka cita-cita kan.
Setiap kali aku menanyakan alasan kenapa aku selalu dituntut, mereka akan
menjawab bahwa aku adalah anak bungsu, dan sudah ada pengalaman dari kaka –
kaka ku. Menurutku sudah menjadi hal kuno sekali, jika aku selalu di tuntut
seperti ini, sedangkan mereka tidak paham betul dengan apa yang aku mimpikan
dan cita-cita kan. Terkadang aku ingin kabur dari penjara tak ber jeruji ini,
tapi bagaimana dengan nasib kedua orangtua ku. Mereka akan merasa gagal telah
mendidik seorang anak seperti ku, mereka akan kecewa dengan apa yang sudah aku
jalani.
Jam sudah menunjukan pukul 09.00 , aku pun
langsung bergegas Kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur dan yang
lainnya. Ayah sudah berangkat kerja lagi, sesaat setelah aku, ayah, dan bunda
sarapan Bersama. Karena hari ini aku sudah tidak ada lagi kegiatan di kampus,
niatnya aku akan menonton bisokop seorang diri. Jika ada yang menayakan kepada
ku dimana letak teman teman ku, maka akan ku jawab, mereka berada di posisi nya
masing-masing. Mereka semua hanya membutuhkan ku disaat mereka butuh saja,
tetapi aku tidak terlalu menghiraukan dan memikirkan nya. Toh jika mereka sadar
atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku, mereka akan membalik kan badan
mereka Kembali dan Kembali ke hadapan ku dengan embel-embel kalimat “ kha, lu
sibuk ga? Gua lagi stress nih, butuh temen cerita, dan gua rasa lu adalah orang
yang tepat untuk gua bercerita.” Apakah aku dendam kepada mereka? Atau aku
merasa kesal?. Dulu mungkin akan aku jawab “iyah” namun seiring berjalan nya
waktu saat ini aku akan mejawab “ tidak.” Tak ada gunanya membeci seseorang
yang mana tidak ada keterlibatan antara kehidupan ku dengan mereka semua.
Setelah selesai bersiap- siap untuk berangkat,
aku Kembali turun ke lantai bawah untuk berpamitan kepada bunda. “ bunnnnn,
Zulaikha keluar dulu yah, mau me time , because Zulaikha sudah boring diam
menyendiri di rumah seorang diri, apalagi tak ada sang pangeran yang menjemput,
lebih baik Zulaikha pergi saja seorang diri.” Ucap ku kepada bunda yang cantiknya tiada tara melebihi
bidadari-bidadari syurga kalau kata ayah. “ Zulaikha…!!! Kebiasaan deh bunda
nya tuh gak budeg, lagi di rumah ini tuh bukan di goaaaa, bunda juga ada disini
kenapa sih mesti teriak-teriak ah, mana dari atas lagi. Ngomong nya yang
baiklah sayang.” Ucap sang bunda tercinta kepada putri bungsu nya. Kebiasaan
anak bungsu nya ini yaitu, berteriak di rumah dan selalu dimarahi oleh bunda
adalah bumbu-bumbu keramaian di rumah keluarga akbar ini. “ hehehehe, saya atas
nama Zulaikha akbar binti akbar ahmad meminta maaf atas kesalahan yang saya
lakukan karena telah berteriak kepada sang bunda tercinta ini, saya harap bunda
memaklumi anak bungsu nya yang cantik serta sholehah ini.” Dibalik sikapnya
yang ceria, bawel, cerewet, pecicilan, heboh, dan lain nya. Percayalah diluar
sana dia sangat amat kalem, pendiam, namun tidak sampai menyendiri di pojokan,
dulu iyah tapi sekarang tidak. Ia sekarang bisa sedikit bersosialisasi, karena
jurusan yang dia pilih di perkuliahan yaitu psikolog, jadi tidak ada alasan
untuk tidak ber sosial.
“ Zulaikha, udah rapi aja kamu, mau kemana
sih.”
“ yehhh, bunda nih, Zulaikha kan tadi dah izin
ama bunda, kalau zuaikha ini mau nonton bioskop.”
“ sendirian aja kamu ? apa samaaaaa.” Goda sang
bunda nyaa.
“ ahhhh bunda apa sih, orang Zulaikha sendirian
aja kok, lagi siapa sih yang bunda maksud.”
“ iyah deh percaya, yaudah sana hati-hati yah
kamu. Jangan pulang malem-malem, ayah tau, nanti bunda yang dimarahin.”
Usia bukan batas kebebasan bagi Zulaikha,
baginya umur boleh 22 tetapi tentang perizinan main, seperti anak smp yang menginjak
tahap remaja. “ bunda, udah deh Zulaikha sekarang 22 tahun, udah bukan remaja
lagi, tapi dewasa, Zulaikha paham ko.” Setelah perdebatan tiada tara antara ibu
dan anak, akhirnya Zulaikha pun bergegas pergi meninggalkan rumah dan bunda nya
untuk pergi ke bioskop.
Hari ini hari rabu jadi tak banyak orang yang
mendatangi bioskop, mungkin saja penuh tetapi bukan disaat jam aku menonton.
Bau khas yang ku hirup, hah sungguh sangat aku rindukan sudah pasti asal bau
ini terletak pada mbak-mbak berbaju putih itu. Popcorn, benar sekali. Aku
memutuskan untuk membeli satu popcorn ukuran sedang dengan satu minuman red
velvet. Aturan yang benar itu membeli tiket dulu baru membeli makanan nya
bukan. Tapi tidak berlaku bagi aku Zulaikha akbar, karena menonton nya saja
dadakan dan bingung akan menonton judul yang mana. Akhirnya aku pun membeli
makanan ringan nya dulu sambil memikirkan film apa yang akan aku tonton, lalu
membeli tiket untuk menonton nya.
“ mau nonton apa kak?” tanya perempuan berbaju
kemeja berwarna putih kerudung berwarna krem dan menggunakan bawahan rok batik, lengkap dengan hiasan make up cantik namun tidak tebal yang menjadi daya
tarik dirinya. “ dear allah yang jam
13.00.” setelah membeli dan mengambil tiket , lantas aku pun bergegas masuk ke
dalam studio karena pengumuman pintu studio yang akan aku tempati sudah di
buka. Banyak pasang mata yang mengarahkan pandangan nya kepadaku. Apakah salah
jika aku menonton bioskop hanya sendiri, dan tidak membawa teman menonton atau
Bersama pasangan layaknya orang yang ada di sekitar ku. Ah sudahlah, lagi pula
aku bersikap bodo amat atas tatapan itu. niat awal ku ingin menonton hanya
sebagai penghibur, pengisi waktu luangku.
Ternyata menonton seorang diri bukan masalah
besar. Aku merasa enjoy dan yahhh senang seperti biasa nya. Jangan harap
setelah menonton aku akan langsung pulang ke rumah. Jika kalian menebak itu,
maka tebakan kalian salah. Tentu ini kesempatan emas ku. Lantas aku melanjutkan
agenda seharian full dengan diri aku sendiri ku tentunya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00
dan aku masih di dalam mall yang aku tuju seorang diri. Karena aku ingin
setelah sampai dirumah ingin bersantai saja, akhirnya aku pun memutuskan untuk
shalat di dalam mall tersebut.
Tetapi sesampai nya di rumah.
“ kha, sudah jam berapa ini, inget waktu gak
sih kamu kalau main, kebiasaan kamu gini nih, suka lupa waktu pulang, jam
segini baru sampe rumah. Keluar dari jam berapa kamu.?”
Sudah tidak aneh jika aku pulang melebihi waktu
magrib, maka akan disambut dengan kata- kata yang baru saja diucapkan oleh
orang yang satu satunya berkuasa di rumah ini. Siapa lagi kalau bukan bapak
akbar satu ini. Kebebasan waktu pun tidak di dapatkan oleh ku sebagai anak
bungsu. Ntah dosa apa yang telah ke empat kaka-kaka ku lakukan, hingga imbas
nya malah kepada anak terakhir yang tidak berdosa ini. Siapa lagi kalau bukan
aku, Zulaikha akbar binti akbar.
“ yahh, ayah tu sebenernya mau apa sih dari
Zulaikha, semua apa yang ayah omongin selalu Zulaikha turuti, ayah suruh
Zulaikha gini, Zulaikha turuti, ayah suruh Zulaikha kaya gitu, Zulaikha turuti.
Bahkan disaat Zulaikha mempunyai celah untuk terbebas dari perintah ayah yang
Zulaikha pikir, terus terusan dituju ke Zulaikha, ayah bahkan masih enggak
ngasih celah buat Zulaikha ber ekspresi seperti kebanyakan orang.” Nada ku
mulai tak bisa disebut wajar untuk sekarang. Karena sejujurnya tak seharusnya
aku menggunakan nada berbicara seperti itu kepada ayah ku yang notabene nya
sebagai orang tua ku. Bisa-bisa jika orang melihatnya, aku akan disebut sebagai
anak durhaka, walau pada kenyataan nya sebenernya aku sedang membela apa yang
selama ini aku pendam. Bukan karena hal- hal yang bersifat negative.
“ maksud kamu apa? Kamu melawan ke ayah?”
lihat, aku bukan melawan, hanya saja aku berpendapat tentang apa yang selama
ini aku alami.
“ ayah, zulaikha masuk jurusan psikolog,
Zulaikha selalu mendengarkan curhatan orang, Zulaikha selalu memberi saran apa
yang sedang menjadi topik masalah dari setiap pasien Zulaikha. Tapi disisi lain
Zulaikha merasa tidak pantas, dan sedih. Apa yang Zulaikha beri kepada mereka
semua, sejujurnya tidak pernah Zulaikha dapatkan dari siapapun, Zulaikha bisa
menjadi pendengar yang baik bagi mereka, tapi siapa yang menjadi pendengar yang
baik bagi Zulaikha. Zulaikha memberi saran masalah kepada mereka, tapi Zulaikha
tidak pernah diberi saran yang baik jika ditimpa masalah. Jadi disini
sebenernya mereka yang membutuhkan Zulaikha, atau Zulaikha yang sebenernya
gilaa.”
Amarah Zulaikha, sudah benar-benar memuncak. “
Zulaikha, ayah belum selesai bicara..!!!”
Panggil ayah nya kepada Zulaikha yang memang
setelah apa yang sudah dia keluarkan Zulaikha langsung pergi meninggalkan
tempat perdebatan mereka tadi. Dan langsung memasuki kamar terindahnya diantara
kamar kamar yang lain kalau kata Zulaikha. “bughhh…!!!” terdengar suara pintu
yang ditutup dengan kencang, yang menandakan bahwa seseorang yang menutup pintu
tersebut sedang benar-benar emosi tingkat tinggi atau level hard.
Menangis? Tentu tidak, entah sudah kebal karena
pengalaman atau memang rasa sedih tertutup oleh rasa kesal. Maka dari itu,
untuk keluar nya saja mungkin terkalahkan oleh amarah. Lagi pula apa yang
menjadi masalah Zulaikha hari ini? Hanya karena dia pulang larut yang menurut
kalian jika dibahas perihal permasalahan tadi itu, ya bisa dibilang belum
larut, benarkan?...
Setelah masuk kamar dengan penuh amarah tadi,
Zulaikha langsung bersih bersih badan, dan ya tentu saja jika sudah di dalam
kamar melihat Kasur, siapa yang bisa menolak lambaian panggilan dari si empuk
satu itu. Mungkin menerima tawaran dari si empuk satu itu bukan masalah, itung-itung
sambil menuggu waktu isya, pikir
Zulaikha.
Sementara itu diluar kamar Zulaikha, masih ada
percakapan antara suami istri yang sedang saling beradu argument.
“ yahh, udahlah, Namanya juga anak muda, lagi
pula tadi Zulaikha juga udah izin sama bunda. Bunda juga percaya sama dia ko
yah, kalo dia gakan ngebohongin kita juga, disaat jadwal sholat juga dia ga
akan tinggalin begitu aja. Dia juga udah 22 tahun yah, apa sih yang mesti
dilarang dari umur segitu. Udah dewasa juga bukan remaja lagi, udah tau mana
yang baik buat dia dan mana yang gak baik buat dia yah.”
Mungkin bisa dibilang ini sebuah belaan dari
sang bidadari tak bersayap di rumah ini, kepada sang raja satu satunya di rumah
ini. Benar sekali, kalau aku tidak lupa memberi tahu bahwa keluarga akbar ini
memang didominasi oleh bidadari semua, yang artinya tidak ada anak laki-laki
dikeluarga ini terkecuali ayah Zulaikha, dan mungkin suami dari kakak-kakak nya
Zulaikha.
“ bunda, maksud ayah bilang kaya gitu ya biar
dia mikir gitu loh bund, pergaulan diluar sana itu udah gak bisa dikontrol
lagi. Gak mandang dia dewasa atau remaja, gak mandang dia umur 15 tahun, 17
tahun, 22 tahun atau bahkan yang lebih dari usia Zulaikha. Ayah tuh ingin
mendidik dia dengan benar. Ayah larang dia begitu dan larang begini tuh, bukan
untuk ayah, tapi untuk dia sendiri juga. Ayah ingin dia itu menjadi perempuan
yang baik baik, yang sesuai dengan apa yang sudah menjadi cerminan perempuan
seharusnya. Ingat bund sekali lagi, ayah disini itu bukan mengekang dia,tapi
disini ayah mendidik dia, agar dia menjadi perempuan yang baik. Bukan tanpa
alasan tapi untuk dia juga.”
Namanya juga orang tua, selalu bahasan nya
takut, dan khawatir jika anak-anaknya salah pergaulan, atau bahkan takut
anak-anaknya terjerumus kepada hal yang tidak baik. Tapi percayalah, Zulaikha
bukan anak seperti itu. Terlebih didikan agama sudah ditanakan sedari kecil
baik untuk Zulaikha, atau untuk kakak-kakak nya yang lain.
“ iyah ayah, bunda paham kok, tapi percaya deh
sama bunda, insyaallah atas izin allah dan doa dari kita sebagai orang tua,
mereka semua bukan hanya Zulaikha, tapi kakak-kakak dia yang udah nikah, bukan
termasuk dan tergolong kepada apa yang ayah maksud itu. Kunci nya satu, kita
terus kasih nasehat nasehat buat mereka aja cukup kok. Lambat laun juga mereka
bakal mikir sendiri yah. Yang pasti tugas kita sebagai orang tua sudah
terpenuhi.”
Tambahan dari bunda untuk menghindari fikiran
negative sang suami untuk sang anak bungsu nya ini.
“ mending sekarang kita istirahat aja, besok
juga pasti udah biasa lagi kok.”
Setelah perdebatan yang bisa dibilang menguras
emosi antara ayah dan aku tadi. Tak terasa waktu sudah larut, setelah sholat
isya tadi, aku sempat melakukan aktivitas rutin ku sebagai seorang perempuan
pada umumnya. Apalagi kalau bukan
skincare. Di zaman yang bisa dibilang generasi z ini percayalah tidak ada satu
perempuan pun yang tidak menggunakan skincare. Benar bukan? Jawab jujur untuk
kalian para kaum hawa di dunia ini. Bahkan aku bingung, untuk anak di usia
belasan saja sudah ada skincare nya. Dulu pada zaman aku, aku tidak pernah
mengenal apa itu skincare, setelah menginjak bangku kuliah, dan status ku
berubah yang asalnya siswa menjadi mahasiswa, barulah aku tau skincare itu
seperti apa. Ternyata bukan hanya cuci muka asal saja, ada tahapan dan tatacara
yang harus diikuti, dan dipenuhi. Yahhhh memanglah aku benarkan bahwa zaman
sekarang memang lah zaman serba maju. Bahkan ponakan ku saja yang masih bayi
sudah ada skincare khususnya. Aku jadi memikirkan dua kali lagi dan
mempertimbangkan antara menikah dan mempunyai anak. Pengeluaran yang begitu
banyak sudah membuatku bergidik. Akan aman jika aku berjodoh dengan bos besar,
namun paitnya jika bukan? Berabe bukan.
Ah sudahlah, mengapa aku membahas tentang per
skincare an ini. Aku bukan ahlinya, dan aku juga sedang tidak mempromosikan
sebuah produk. Jadi mari kita selesaikan
bahasan kita mengenai skincare ini dan lanjut tidur saja. Sudah cukup tentang
hari ini, nampaknya dibalik kata Bahagia itu, ya tidak selama nya akan abadi,
pasti saja selalu ada ujung masalahnya.
***
Hari-hari pun sudah berlalu, perdebatan antara
ayah dan anak bungsu nya itu sudah berakhir damai. Lagipula kesalah pahaman,
perdebatan, atau apalah itu Namanya di lingkup keluarga itu, bukan sesuatu yang
aneh, dan memang selalu ada sebagai penghias , bukan sebagai penghalang
pemandangan sebuah rumah.
Ohh iyah, kalian tau, hari ini dirumahku sedang
kumpul semua kakak-kakak ku beserta suami dan anak-anaknya yang imut ,
menyebalkan, namun tetap sholeh dan sholehah ini. Eitsss tapi bukan ada acara
lamaran ku yah, jika kalian berfikir dan menenbak seperti itu. Kalian sangat
amat salah besar. Besok adalah hari wisuda ku, sudah dapat dibayangkan betapa
riwehnya keluarga ku, mulai dari ayah, bunda, kakak-kakaku, kakak-kakak ipar
ku, dan ponakan-ponakan tercintaku ini. Ramenya mereka, ribetnya mereka, sudah
seperti akan ada acara pernikahan , padahal ini hanya acara wisudaku saja, yang
mana jika kalian tau alur wisuda itu seperti apa, yaaa pastilah akan berfikir “
ya allah niat bat keluarganya.”
Yang masuk kedalam Gedung itu hanya aku dan
perwakilan keluargaku saja, itu pun hanya satu orang, sisanya mau tidak mau harus
menunggu diluar. Sungguh aku sudah membayangkan, betapa kasian nya kakak-kakak
ku ini nantinya. Tapi mau bagaimana pun mereka seperti ini , ya karena mereka
antusias dan senang atas pencapaian akhir ku ini. Apalagi aku adalah anak
terakhir. Tidak bisa dipungkiri bagaimana lega dan bebas nya nya nafas ayahku
saat ini. Beliau telah berhasil melahirkan kelima anaknya menjadi sarjana
semua, walaupun pada kenyataan nya, kakak-kakak itu menjadi ibu rumah tangga
semua. Bukan atas keinginan mereka, tetapi atas arahan dari suami suami mereka,
yang mana arahan atau perintah suami itu mau tidak mau harus dipenuhi dan
dilaksanakan. Syurga mereka bukan lagi terletak pada bunda, tetapi pada suami
mereka masing-masing.
“mityyyyyyyyyy, kok gak buka pintu kamar nya
sih, aku kan kangen sama mityy, emang mityy gak kangen sama akuu?” teriak bocah
lelaki diluar pintu kamarku. Ahh jika sudah ada pasukan bocah bocah itu, pasti
saja selalu membuat kamar ku berantakan, seperti kapal pecah. Satu waktu pernah
ponakan manis ku ini bermain Bersama di kamarku, habis sudah satu botol shampoo
dan pecah botol parfume,skincare ku. Alhasil, kamarku dipenuhi dengan aroma wangii
yang terlalu berlebih, sampai-sampai aku harus mengungsi ke kamar sebelah.
Karena menghirupnya saja membuatku pusing. Ingin sekali aku marah kepada anak
anak yang lucu itu, namun apalah daya, tak ada guna nya juga memarahi mereka.
Mungkin aku arahkan dan lebih ke memberi wejangan kepada mereka, apa apa saja
kesalahan mereka, dan mereka harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah
mereka lakukan. Paling tidak jika kita melakukan kesalahan, jangan lupa untu
meminta maaf atas apa yang sudah kita lakukan itu. Ini bukan perihal barangnya
tetapi, tanggung jawab dari diri mereka.
“ apa sihhhhh khawarijjjjj anak ku yang ganteng
nya masyaallah, yang sholehnya masyaallah, yang pinter dan cerdas nya
masyaallah, yang kelakuannya nauzubillah tapi mityyy sayang ini.” Begitulah aku
soal ke friendly an jangan diragukan lagi. “ kangen gak mesti kudu masuk ke
kamar mity yah, ntar mitty berabe lagi beresin kamar hasil karya mu itu.”
Akhirnya Zulaikha pun bergegas keluar Bersama ponakan nya dan turun kebawah
untuk berkumpul dengan anggota keluarga yang lainnya.
Jangan aneh, karena pernah dibahas bahwa
keluarga Zulaikha itu kelurga besar, jadi sekalinya ada acara perkumpulan
selalu saja ada acara bakar bakaran, makan Bersama atau bahkan sekedar
suki-sukian. Bahasan tiap bahasan keluar dari mulut masig masing sang kakak
kepada sang adik, antara kakak ipar dan adik ipar.
“dek, gimana nih setelah lulus?” tanya suami
dari kakak ke tiga ku
“ maksudnya gimana kak? Ya alhamdulillah, of
cours seneng banget, karena ya udah terbebas dari dosen dosen yang masyaallah
banget lah semangat mengajarnya tuh, apalagi dosen yang mengharuskan Zulaikha
untuk bergadang tiap harinya. Ah itu kaya udah deh alhamdulillah banget sih aku
kak.”
“ hahaha, dasar kamu nih. Tapi bukan itu yang
kaka maksud. Kedepannya kamu mau kaya gimana nih?.” Ya begitulah sebenarnya
Zulaikha sudah paham betul tujuan arah
pembicaraan itu kemana.
“ ya kerja lah kak, apalagi.”
“ nikah dek nikah, gimana tuh kalau itu, udah
ada calon kah atau belum nih, masa iyah perempuan sholehah kaya zulaikha akbar
ini gak ada yang naksirin.”
“ aduhhhh, kak ahmad mulai deh, bahasan nya
terlalu jauh ah, Zulaikha males nanggepinnya, baru juga mau wisuda besok, udah
ditanya kearah sana. Lagi kan Zulaikha juga mau happy happy dulu gitu.”
“ nah kalau belum kakak kebetulan punya kenalan
lelaki yang cocok banget buat kamu, siapa tau kalian emang berjodoh dan ya cocok
juga.” Nah kan sudah ku tebak arah main nya kemana.
“ kak ahmad yang baik hati dan rajin menabung,
serta penyayang anak dan istrinya. Udah deh bahasan nya, tentang jodoh pokoknya
udah deh, kita skip dulu yah. Mending sekarang kita rayakan dulu pra wisuda
Zulaikha buat besok nih okeh gak.”
Pada akhirnya semua berenti membahas terkait
dengan perjodohan ini. Dan mereka melanjutkan kegiatan have fun keluarga
mereka. Namun Sebagian kaka nya ada juga yang sudah masuk kamar, sekedar
meniduri anak anak nya yang masih bayi karena ini sudah waktunya bagi para
malaikat kecilku beristirahat. Aku memang belum menikah, dan mempunyai anak,
tetapi kehadiran keponakan keponakan ku sudah seperti anak bagi aku.
Keesokan harinya, Zulaikha sudah tampil dengan
riasan wajah cantik simple, namun sangat pangling kalau kata orang orang , dan
ini bukan hasil riasan MUA. Ini adalah hasil kreasi keahlian tangan Zulaikha
sendiri, menurutnya menyewa MUA sangat amat menghamburkan banyak uang, walau
pada kenyataan nya ya dia tinggal menggesek uang tersebut di ATM nya. Namun
tetap saja, selagi kita bisa dan mampu
untuk melakukannya sendiri, mengapa harus kita mengandalkan orang lain. Itung
itung iseng dan punya pengalaman baru juga.
kebaya warna pastel yang dia kenakan merupakan
bekas kebaya pertunangan kakak nya yang keempat. Seperti yang sudah dikatakan
di atas, Zulaikha itu anaknya hemat, dan tidak ambil pusing, selagi ada dan
masih bisa dipakai, kenapa tidak kita memanfaatkan nya lagi.
“ masyaallah tabarakallah, anak bunda cantik
banget siiii, bundanya siapa sih sampe anaknya bisa secantik ini.”
Halah selalu saja seperti itu bahasan nya,tapi
bukan berarti aku risih, namun itu sudah menjadi pernyataan umum orang-orang
bukan. “ ihh bundaaa, udah deh yuk kita berangkat aja, biar kakak-kakak dan
para bontot nya menyusul nanti aja, kalo ditunggu nanti Zulaikha telat.”
Acara demi acara pun telah dimulai, pemanggilan
para wisudawan pun sudah dilaksanakan. 3 jam lamanya acara wisuda ini
berlangsung. Setelah acara wisuda ini selesai, lantas Zulaikha dan keluarga nya
pun berfoto Bersama di salah satu studio foto ternama di kota bogor ini.
***
Hah, sungguh melelahkan acara hari ini. Tapi
walaupun melelahkan, agenda hari ini pun cukup mengasikan. Dari mulai awal
hingga akhir. Sampai pada akhirnya, kebahagiaan itu tidak lama bersemi di
kehidupan ku.
“ Zulaikha, kalau sudah selesai tolong turun
kebawah sayang, bunda ayah dan kakak kamu ingin membahas sedikit masalah.” Ya
rabb cobaan apalagi yang akan engkau serahkan kepadaku sebagai hamba yang lemah
seperti ini. Sesal ku dalam hati setelah mendengar ucapan dari bunda.
Setelah semuanya selesai dan aku sudah bersih
bersih badan, aku pun memutuskan untuk turun kebawah dan berkumpul Bersama
keluarga yang lain.
“sayang, kamu tau kan bunda sekarang udah bukan
bunda yang dulu lagi, bunda yang sehat, bunda yang bugar. Tetapi saat ini bunda
sudah memiliki permasalahan dalam Kesehatan bunda ini. Kamu tau, bunda sudah
mengidap penyakit ini sudah lama. Bahkan masa-masa SMA mu dulu di isi dengan
hari-hari Bersama bunda di sebuah rumah sakit yang bahkan kita berdua pun belum
tau tata letak kota itu seperti apa. Tadi sekitar beberapa jam yang lalu, bunda
di informasikan oleh pihak rumah sakit sana, dan diharuskan untuk berobat
Kembali lagi, karena jujur hasil dari yang lalu memang tidak membuahkan hasil
yang baik. Dan disini bunda sudah berdiskusi dengan yang lain, perihal siapa
yang akan membantu bunda. Dan sesuai kesepakatan Bersama juga, tanpa,
mengurangi rasa ke tidak enakan bunda ke kamu. Bunda harap kamu mau membantu
dan menolong bunda seperti dulu lagi. Mengingat yang lain sudah mempunyai
tanggung jawab masing-masing.”
Sungguh, kalimat ini , kota, bahkan rumah sakit
nya saja masih menjadi trauma ku. Dan sulit untuk dihilangkan, walaupun sudah
bertahun-tahun lamanya. Aku tidak masalah, namun bagaimana dengan tanggung
jawab kakak-kakak ku yang lain. Setiap ada masalah seperti ini, selalu aku yang
diandalkan, selalu aku yang dijadikan alasan mereka. Bahkan untuk inisiatif
ayah ku pun tidak ada. Lantas jika sudah seperti ini, dan sudah diberi tanggung
jawab seperti ini, aku bisa apa? Menolak nya pun tidak tega, jujur jika ada
hal-hal yang tidak mengenakan seperti ini, mereka semua selalu melimpahkan nya
kepadaku. Bukan nya tidak mau, namun aku mempertanyakan tanggung jawab kakak
kakak ku yang lain. Oke aku bisa mentolerasikan nya untuk sekarang. Tetapi
beberapa tahun yang lalu? Mereka kemana.
Mau tidak mau, suka tidak suka, terima atau
tidak. Pada intinya aku memang harus pergi, bagaimana pun juga, selain aku,
maka siapa lagi yang akan menolong bunda. Bunda dan aku akan berangkat pada
hari rabu nanti. Entah menggunakan kendaraan pribadi, atau menggunakan jasa
travel.
“ insyaallah, akan Zulaikha bantu, semampu dan
sebisa yang Zulaikha bisa.”
Aku harus memulainya dari nol, pikirku. Setelah
diskusi keluarga itu, lalu aku langsung beranjak ke kamar. Bukan karena murung,
hanya saja aku ingin istirahat karena kegiatan tadi sangat amat membuatku
Lelah. Sesampainya dikamar aku bukan beranjak ke Kasur melainkan duduk dan
menghirup udara malam di balkon kamar ku, dengan pemandangan rumah rumah
tetangga tetangga ku. Haaaa….. udara ini, merupakan udara yang aku rindukan,
udara sejuk setelah hujan memang sangat amat menjadi pendukung waktu
merenungku. Sambil membawa sebuah buku dan bolpoint. Disaat -saat seperti ini
aku selalu menulis keluh kesahku di dalam sebuah kertas berwarna putih.
Hari rabu pun telah datang, aku dan bunda sudah
dalam perjalanan menuju kota yang memiliki Gedung sate. hari ini jalanan
sedikit macet, ya kapan sih bandung gak macet, tanya ku pada diriku sendiri.
Lalu Lalang dan banyaknya orang, memakai seragam, dan tidak memakai seragam,
menjadi penghias pagi hari di kota ini. Aku dan bunda sudah sampai di salah
satu rumah sakit paling terkenal di kota ini. Padatnya orang di dalam tidak
dapat dipungkiri, sama padatnya seperti di lampu merah yang aku lewati tadi. Baik
tua maupun muda, kalian akan menemui nya ditempat yang aku tuju ini. Baik anak
kecil maupun orang dewasa. Kesedihan ku muncul, iba kupun datang. Jujur dalam
hal seperti ini aku mudah sekali mengeluarkan air mata, bagaimana
tidak,semangat mereka sangat tinggi untuk bisa sembuh seperti dulu kala. Sama
hal nya seperti bundaku ini, bertahun tahun lamanya sampe saat ini semangat
bunda sangat tinggi untuk bisa sembuh, walau selalu digantung harapan oleh
dokter disana, itu yang membuatku merasa kasihan kepada bundaku. Tidak ada
imbal balik bagi semangat juang sembuh untuk bundaku.
“teh, boleh nitip gak anak aku, bentar aja,
kebetulan mau ke ruangan itu dulu sebentar mau konfirmasi buat azhan bentar.”
Tanya ibu ibu muda sekitar usia 24 tahun nan tidak jauh berbeda dengan ku kelihatannya.
“ oh iya teh boleh, gapapa ko disini aja, kebetulan lagi nunggu bunda aku juga
ko.” Azhan merupakan nama yang aku jarang dengar dan juga istimewah sekali.
Tetapi saat aku melihat anaknya aku sedikit terkejut nampaknya azhan ini bukan
anak seperti biasanya, namun dia memiliki keistimewahan diantara anak anak yang
lain. “ aduh teteh, makasih banyak yah mau direpotin sama aku. Ngomong ngomong
teteh kesini berdua aja atau gimana? Asalnya dari mana?” tanya ibu muda ini
kepadaku, karena aku anak psikolog, paling tidak sedikit lebihnya aku paham
bagaimana karakter perempuan ini saat
mengajak mengobrol dengan ku. Penyabar, menerima keadaan apa adanya,
ceria, dan selalu menjalani apa yang sudah menjadi konsekuensinya. “ gak sama
sekali direpotin kok teh, lagi azhan nya juga anteng ko baik banget yah dia,
ngerti lagi dimana gak mau ngeribetin mamahnya. Kebetulan iyah nih aku berdua
doang sama bunda, aku asalnya dikota hujan paham lah yah dimana hehe kalau
bukan bogor tercinta.” Aku memang seperti itu, gampang akrab dengan orang
banyak, karena mungkin basic psikolog ku memang sudah mandarah daging.
“ azhan ini punya kelainan diantara anak-anak
lainya, azhan ini sudah dinyatakan downsyndrome sejak usia nya baru mengijak 3
hari, awalnya aku gak nerimain ini, karena aku sempet mengeluh tentang cobaan
apa lagi yang allah percayakan kepadaku ini. Disaat orang orang diluar sana sedang
kumpul Bersama keluarga nya, ayah ibu ku sudah meninggalkan alam dunia ini
terlebih dahulu sejak usiaku 17 tahun, itu ujian paling terberat yang pernah
aku rasakan. Mereka berdua mengalami kecelakaan, saat sedang melakukan
perjalanan ke suatu tempat. Aku tidak mempunyai adik maupun kakak, aku hidup
hanya sebatang kara. Untungnya ada adik dari ibu ku yang mau mengurus dan
menolongku sampe aku sekarang ini. Tidak membedakan antara aku ponakannya dan
anak kandungnya. Beliau membantu perkuliahanku, ya walaupun tidak sepenuhnya
keinginanku, tetapi aku tetap menjalani nya, karena aku yakin apa yang sudah
adik ibu ku arahkan untuku adalah hal baik bagi aku juga. Belajar menerimaan
keadaan selalu aku pelajari walau pada kenyataan nya ingin memberontak. Lulus
kuliah, qodarulah aku langsung menikah dan yah kebagiaanku sangat amat
memuncak, aku berpikir bahwa sekarang aku tidak sendiri lagi. Tapi kebahagiaan
itu semu, saat aku melahirkan azhan, allah memberi ujian lagi kepadaku yang
menharuskan aku untuk berjuang Bersama suami. Tapi yam au bagaimana lagi, ini
sudah ketentuan allah, aku sebagai hamba nya yang banyak dosa hanya bisa
menerima nya dengan ikhlas, dan menjalani nya dengan penuh senyuman, walaupun
lain hati lain juga mulut dan pikiran.” Cerita ibu muda ini kepadaku, karena
mungkin dia hanya ingin berbagi kisah dan pengalaman nya saja kepada aku.
Sesaat setelah dia mengetahui bahwa jurusan yang aku geluti itu psikolog.
Pengalam ibu muda ini sangat amat membuat
pikiran ku menjadi terbuka. Penderitaan ku selama ini hanya suruhan dna
kebebasan saja, tetapi selama ini setelah aku menjalaninya tidak ada hal hal
aneh yang menjadi imbas nya, malah hal hal positive dari hasil yang sudah
diarahkan sebelumnya dari orang tuaku. Tetapi tetap saja ada sedikit kesalahan
menurutku jika ayah terlalu mengekang ku walau pada intinya ingin anaknya
berada di jalur yang tepat.
Tak terasa, konsultasi bunda dengan dokter pun
sudah selesai, kalian tau keajaiban apa yang allah beri bagi keluarga ku? Bunda
dinyatakan sembuh dari penyakit yang diidapnya. Benjolan kecil yang ada di
ginjalnya sudah ilang, karena atas kuasa allah. Aku pun ikut senang dan gembira
atas kabar ini. Aku langsung memeluk bunda dan merasa tidak menyangka.
Setelah kabar gembira itu, Zulaikha lantas
pergi ke sebuah minimarket terdekat depan rumah sakit unttuk membeli cemilan
dan minuman untuk menemani perjalanan pulang mereka. Namun sesaat setelah
Zulaikha selesai berbelanja dan akan menyebrang, sebuah mobil melaju kencang
dan sepertinya rem mobil itu rusak dengan spontan dan itungan detik, mobil itu
menabrak Zulaikha yang berada di posisi yang benar.
“ZULAIKHA………..!!!!!!!!” Teriak sang bunda
kepada Zulaikha, orang orang disekitar pun langsung berlarian menolong
Zulaikha, siapa sangka baju putih bersihnya kini ternodai dengan bercak darah
yang mengalir dari tubuh Zulaikha. Zulaikha langsung dibawa masuk ke dalam
rumah sakit, diatas blangkar Zulaikha berucap. “ bunda, Zulaikha takut,
Zulaikha gak mau ditinggal sendiri, Zulaikha mau bareng bareng sama ayah sama
bunda. Zulaikha takut sendiri. Zulaikha mau pulang aja gak mau disini.”
“ dokterr tolong bantu anak saya, saya mohon.”
Ucap sang bunda sesaat setelah Zulaikha tak sadarkan diri. Akan tetapi, tidak
ada harapan lagi bagi Zulaikha. Percakapan tadi adalah percakapan terakhir
antara ibu dan anak bungsunya itu. Iyaaa, Zulaikha dinyatakan meninggal karena
pendarah di otak nya.
Tidak menunggu lama, jenazah Zulaikha pun
langsung dibawa ke rumah duka. Dan langsung dimakamkan keesekoan harinya. Rasa
rindu yang Zulaikha tinggalkan kepada keluarga nya sungguh sangat menyakitkan,
rindu yang tidak bisa diobati selain hanya lewat doa, teriakan di setiap
penjuru ruangan tidak akan pernah terdengar lagi. Saat bunda masuk ke dalam
kamar Zulaikha , bunda nya disambut oleh sebuah buku yang selalu menjadi tempat
curhat anak bungsu nya itu.
“ sebenernya aku tidak benci keluarga ku, hanya
saja cara keluarga ku mendidik ku kurang cocok untuk aku yang sering
memberontak. Aku sangat bersyukur dilahirkan dikeluarga akbar ini. Walau pun sedikit
ada kekangan tapi itulah ciri khas keluarga ini. Mungkin aku tidak akan menulis
di buku ini lagi, karena sudah cukup keluh kesahku habis, berbarengan dengan
sudah penuhnya isi tulisan dari buku ini. Siapapun diantara kalian yang
membacanya, selamat kalian berhasil menjadi seorang pembaca buku pertama ku.
Ada hal yang perlu kalian tau tentang aku, aku tidak menyukai suasana ramai,
tetapi aku takut untuk ditinggal sendiri. Sampai bertemu lagi , dari aku
Zulaikha akbar binti akbar.”
Tak terasa air mata bunda nya selalu keluar
begitu saja tanpa bundanya sadari, jadi selama ini dia tak pernah mengeluh dan
menerima pendapat itu, kesalahan besar. Dimana sosok seorang bunda pendengar
yang baik bagi anaknya itu. Ternyata kalimat perpisahan di dalam buku itu benar
benar menjadi kalimat perpisahan terakhir bagi Zulaikha.
Tetapi, penyesalahan hanyalah penyesalahan,
tidak dapat diubah. Rasa bersalah semakin menjadi sesaat setelah bunda nya membaca
curhatan anak bungsu nya disebuah buku.
***
Jam sudah menunjukan pukul 13.00 , suasana di
sekitar pun ramai cuaca disekitar pun tidak terlalu panas dan tidak juga hujan.
“ bunda…,bunda…,bundaaa, bangun bun, bunda
kenapaa, aduh bunnnnn?”
Khawatir Zulaikha pada sang bunda , Ketika
Zulaikha melihat bunda nya tertidur namun terisak dalam tidur nya dan
mengeluarkan air mata. Zulaikha kebingungan pasalnya, dia baru melihat orang
yang tertidur namun terisak dalam tidurnya sampai-sampai mengeluarkan air mata.
“ ya allah, bundaa,kenapa susah bangun siiiii,
pantes aja kaka kaka banyak yang kembluk
ternyata turunan dari bunda kali yaa?”
Ujar Zulaikha berbicara sendiri sambil
menggoyangkan bahu sang bunda agar terbangun. Orang orang disekitar pun melirik
Zulaikha yang kewalahan membangunkan bunda nya itu, sebentar lagi mobil travel
yang akan di naiki oleh Zulaikha dan bunda nya akan segera berangkat.
“1..”
“2..”
“3..”
“bundaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!”
“ astagfirullah, ya allah, ya Rahman, ya Rahim,
lailahaillah muhammadarrasulullah..” sambil memegang kedua dada nya, dan terbangun
dari tidurnya.
“ Zulaikha..? ini bener kamu sayang? Bunda gak
mimpi kan? Ini beneran anak bunda kan? Zulaikha akbar? “ sambung sang bunda
Ketika sudah terbangun dari tidurnya yang kembluk kalau kata Zulaikha.
“ihhhh Allahu akbar, bundaaa, kenapa sihh,
iyyah ini Zulaikha, Zulaikha yang cantik dan baik hati, rajin menolong, rajin
menabung. Gak mimpi bunnn enggakk. Ini Zulaikha anak bundaa.”
“ alhamdulillah ya allah, astagfirullah , dosa
apa aku ya allah, sampai-sampai engkau memberi mimpi kepadaku semenakutkan itu,
ampuni hamba mu ini ya allah.” Ucap sang bunda dalam hati
“ lagi bunda kenapa sih, tidurnya nyenyak
banget, sampe susah dibangunin, mana tidur sambil nangis lagi. Bunda mimpi apa
sih , mangkanya bun kalau tidur tuh baca doa dulu, capek boleh tapi inget siapa
yang ngasih bunga tidur kita , allah kan sel, mangkanya biar terhindar dari
mimpi-mimpi buruk berdoa dulu.”
“ iyyah sayang, makasih yah udah ngingetin
bunda, bunda saking kecapean nya langsung tidur dimana aja.”
Jawab sang bunda, namun tidak memberitahu
alasan dia menangis sambil tertidur tadi, khawatir malah menjadi pikiran anak
nya yang tidak-tidak, karena bunda nya tau sekali anak bungsu nya ini memiliki
sifat yang berbeda dari kakak-kakak nya yang lain. Zulaikha cenderung selalu
menjadi orang yang pemikir, dan pada akhirnya anak merenung dan hari-hari yang
dia jalani tidak akan penuh canda dan tawa.
“ yaudah deh bun, sekarang kita naik aja ke
mobil, udah mau berangkat juga, nanti kita ketinggalan lagi sama mobilnya,
kalau ketinggalan kan gimana”
“ iiyyah sayang ya ampun bawel banget sih anak
bungsuku yang satu ini.”
Kebetulan kursi ku berada di dekat jendela,
sebenarnya ini bukanlah sebuah kebetulah, tapi memang aku yang memesan nya
dekat jendela hehehe. Vibes duduk di kursi dekat jendela pada saat berpergian
itu memang beda dari yang lain. Galau nya dapet, padahal emang lagi gak ada hal
yang di galauin. kalian gitu juga gak?
Suasana jalan tol tidak terlalu ramai, awan pun
sudah tidak kuat menahan beratnya gumpalan uap uap yang sudah mereka serap yang
mengakibatkan jatuhnya butiran butiran air dari atas turun ke bawah. Pasti
diluar sana sejuk sekali, apalagi hujan nya jatuhnya tidak bergerombol, tetapi
rintik-rintik. Wahhh sudah aku pastikan aku lah orang yang paling beruntung
yang bisa menduduki kursi di dekat jendela ini. Butiran air yang jatuh dari
atas ke bawah menempel di kaca mobil sehingga menambahkan kesan estetik nya
perjalanan ini. Aku pun bergegas untuk mengambil gambar dari dalam mobil
tersebut untuk kebutuhan snapgram. Hayoooo, jujur kalian semua juga termasuk
orang orang yang bukan anti sosmed juga kan? Sejujurnya dulu aku sangat amat
anti sosmed, buka sosmed pun tak sesering sekarang sekarang.
Selama perjalanan ini aku mendengarkan lagu
kesukaan ku menggunakan earphone, sampai tanpa aku sadari aku malah tertidur
pulas di perjalanan ini. Niat hati ingin menikmati setiap detik perjalanan ini,
namun apalah daya, rasa kantuk itu tidak bisa dibohongi dan di alihkan.
“kha, bangun nak udah mau sampe nih sebentar
lagi, bangun nya sekarang biar nanti pas turun udah gak lulungu lagi.”suara
bunda membangunkan ku.
Sesaat setelahnya aku pun saampai di tempat
tujuan akhir travel ini. Saat aku sudah menuruni mobil, aku sudah disambut
dengan kehadiran ayah ku yang sedaang menanti ratu dan putri kesayangan nya.
“ ayahhh…!!!” tunggu dulu, itu bukan aku yang
menyapa yah, melainkan bunda. Ya begitulah saat sudah Bersama atau bertemu ayah,
bunda selalalu bereaaksi layaknya anak muda yang baru menikah hari kemarin.
Tapi itu bukanlah masalah, malah aku menyukai sikap bunda yang seperti itu ke
ayah, sangat terlihat sekali rasa sayang bunda yang tidak pernah ada
habis-habisnya untuk suaminya itu. Tapiiiii……. ya gak diluar gini juga kan
temen temen, khawatir banyak orang yang berpandangan berbeda dan malah
berkomentar dan mengakibatkan terjadinya ain dalam hubungan bunda dan ayah.
Kalau sudah sepperti itu kan bahaya juga.
“ bundaa, ih apa sih banyak orang yang liatin
tau.” Desak Zulaikha sambil berbisik kepada bunda.
“hehe map yah, abis kangen banget udah gak
sabar mau ngobrolin hasil tadi.”
“ masyallah alhamdulillah, 2 kesayangan ayah
udah pada sampai dengan selamat. Yaudah gimana kalau sekarang kita makan aja
dulu. Udah mau magrib juga sekalian sholat di dalem mall nya.” Ajak ayah kepada
aku dan bunda, karena jujur saja untuk aku sendiri memang sudah tidak bisa lagi
mentoleransi demo demo yang ada dalam perutku
“ ayah makan di hokben yu yah, udah lama banget
Zulaikha gak makan hokben.” Ini adalah kesempatan ku sebagai anak untuk bisa
menggunakan kartu as ku kepada ayah.
“ iyah nak boleh kok”
Nah kan apa yang aku bilang, ayah pasti akan
menuruti kemauan ku, tetapi selalu ada yang sewot, siapa lagi kalau bukan
bunda.
“ alahhh, kamu mah kesempatan aja mumpung ada
ayah. “
“apa sih bunda ya allah cemburu banget sih ama
anaknya sendiri, kapan lagikan Zulaikha bisa kaya gini, nanti nanti mah gak
bisa Zulaikha kaya gini, jadi mumpung masih ada kesempatan, janganlah sia
siakan kesempatan ini bun, inget.”
“ lah emangnya kamu mau kemana, sampe bilang gitu
segala.”
“ ya mau nikah lah bundaa, masa Zulaikha mau
single terus terusan, jadi nyamuknya ayah bunda terus-terusan. Gak mungkin
kan.”
“ iyah deh zulaikha akbar, bunda salah.”
***
Sesampainya di tempat makan tujuanku, segera
aku memesan menu yang ingin aku pesan untuk makan siang ku yang tertinggal tadi
saat di bandung. Setelah semuanya selesai memesan aku, ayah, dan bunda segera
menduduki tempat yang kosong. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, bisa makan
enak bareng keluarga tercinta dalam keadaan Bahagia, orang tua sehat sehat. Aku
tersenyum saat melihat interaksi bunda dan ayah yang mengobrol dengan dipenuhi
canda dan tawa.
“ ya allah, sehatkanlah kedua orang tua ku,
panjangkan lah umur keduanya, tambah kanlah rizki untuk keluargaku, ampunilah
segala dosa-dosa mereka, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku
diwaktu aku kecil. Ya allah, besar harapanku Ketika kelak aku sudah
dipertemukan dengan calon imam ku, aku mengiginkan hal hal baik yang selalu aku
lihat dalam hubungan orang tua ku turun menjadi hal-hal yang baik bagi
hubunganku kelak nanti. Sabarnya bunda menghadapi ke egoisan ayah, dan rasa
sayanganya ayah kepada bunda yang tidak pernah ada batasnya. Semoga pada saat
nanti aku menikah, ayah dan bunda masih bisa menyaksikan aku.” Doa ku dalam
diam sambil melihat interaksi Bahagia mereka sambil tersenyum.
“ ayah, bunda Bahagia banget , alhamdulillah
allah mengabulkan segala doa doa bunda. Atas izin allah bunda dinyatakan sembuh
dan gak perlu balik lagi berobat ke bandung. Bunda Bahagia banget ayah.”
Ucap bunda sambil mengeluarkan air mata, tak
lama ayah pun memeluk bunda sambal berbicara.
“ alhamdulillah ya allah, bunda makasih banyak
yah udah mau berjuang sampe titik ini, sampai akhirnya allah menyatakan sembuh
untuk Kesehatan bunda, ini suatu kehendak allah bagi hambanya yang mau sabar
dan berusaha dalam segala hal apapun. Rasanya ayah sangat amat tidak menyesal
bisa memilih dan meminang bunda sebagai istri ayah dan ibu dari anak-anak ayah.
Makasih banyak yah bunda udah mau menerima lamaran khitbah ayah dan berakhir
menjadi istri ayah.”
Hangat, itu yang aku lihat diantara interaksi
ayah dan bunda, kapan lagi aku bisa melihat kisah mereka secara langsung ini.
Akan aku ceritakan cerita ini kepada anak anak ku kelak, betapa sangat dicintai
nya nenek kalian oleh kakek kalian.
Aku, bunda, dan ayah berkeliling mall , selain
sekalian untuk belanja bulanan, ayah juga memberi hadiah untuk bunda. Dan tak
terasa waktu pun sudah mulai larut. Aku, ayah, dan bunda pun bergegas untuk
pulang ke rumah.
Diperjalanan aku melihat ada notifikasi
permintaan pertemanan di instragram ku, dan dia adalah orang yang aku suka dari
dulu. “ ini beneran gak sih? Apa aku yang halu” tanya ku dalam diam, tetapi aku
tak langsung membuka aplikasi itu. “ nanti aja deh kalau di rumah.”
***
“ ayah, bunda, Zulaikha izin ke kamar duluan
yah, mau bersih bersih badan terus tidur, soalnya udah malem juga dan capek
hehe.”
“ iyyah sayang boleh, makasih banyak yah maaf
selalu direpotin sama bunda, sini bunda mau peluk kamu dulu.”
Setelah adegan peluk memeluk aku pun bergegas
pergi ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarku, dimana semua ekspresi selalu
aku curahkan disana. Walau diluar sana hujan, tapi tubuhku kegegrahan, jadi aku
memutuskan untuk mandi dan tak lupa juga keramas. Kalian tau, rutinitas
keramasku sangat amat bertele tele, bukan tanpa alasan, karena dulu rambutku
pernah rusak separah parahnya, dan ya sekarang ini aku tidak ingin kejadian itu
terulang Kembali lagi.
“ huahhh, segarnya, sejuknya, ademnya badan kalau
udah mandi, kalau udah kaya gini pasti tidurnya suka nyenyak juga.”
Selesai membersihkan badan dan skincare wajah,
aku pun lanjut untuk tidur,eitss jangan harap aku langsung memejamkan kedua
mata ku. Karena rasa penasaran di mobil tadi, aku jadi ingin membuka instrgram
dulu, melihat notifikasi tadi, apakah benar dia mengikuti akun akua tau dia
tidak sengaja kepo terharap akun ku dan tak sengaja ke klik mengkuti?
Dan boom benar saja, dia ternyata benar benar
mengikuti akun instagramku
“ demi apa, seriusan gua di follow ama ni
orang? Gua gak mimpikan? Ya allah ini beneran kan ya allah, dia gak kepencet
mengikuti kan? Dia beneran follow kan ya allah dengan sengaja. Ya allah semoga
aja ini Bahagia yang abadi bukan Bahagia yang semu dan Bahagia yang tertunda.”
“ aduh aduh gua harus gimana yah ini yah, gua
ikutin balik aja apa yah, atau gimana yah ini, ya allah bigung banget.” Ya
begitulah keriwehan seorang anak perempuan Bernama Zulaikha jika ada kabar yang
membuatnya Bahagia. Sudah dipastikan hari hari selanjutnya akan jauh lebih
berbunga-bunga dari hari sebelum-sebelumnya
“what.. dia menyukai snapgram gua? Wah wah gak bisa
dibicarakan dengan baik baik ini, mau nangis ya allah, gua ikutin balik deh
siapa tau besok dia nge dm kan nanyain kabar atau apalah itu Namanya, sekarang
mending kita tidur dulu ya Zulaikha, semoga mimpi indah juga, kalau bisa
mimpiin dia hehehe.”
Setelah ramai nya pembicaraan diri sendiri
antara zulikha dengan Zulaikha, suasana kamar pun menjadi sunyi, yang terdengar
hanyalah suara mesin ac lampu lampu pun dimatikan dikamar, karena ayah Zulaikha
sendiri selalu mengarahkan kepada anak-anaknya untuk selalu mematikan lampu
tidur dimalam hari, selain sunnah rasulullah sallahu’alaihi wasallam ,
mematikan lampu juga bisa membuat mata kita beristirahat.
***
Waktu sudah menunjukan jam 05.00, Zulaikha
bergegas melakukan kewajiban nya yaitu sholat subuh. selelsai sholat subuh
Zulaikha selalu melaksanakan dzikir pagi, itulah kebiasaan keluarga akbar,
semua keluarganya diajarkan hal hal positif tentang beragama.
“ting ting”
Suara notifikasi hp Zulaikha
“ dimana hp nya yah, lupa nyimpen lagi” ya
begitulah Zulaikha selalu lupa menyimpan barang barang nya
“ nah ketemu juga” setelah menemukan hand phone
nya itu , Zulaikha langsung mendudukan dirinya di tepi Kasur miliknya. Betapa
terkejutnya Zulaikha sesaat setelah mengetahui notifikasi dari siapa yang dia
dapatkan.
“ assalamualikum Zulaikha”
“ gimana nih kabarnya? Ayah bunda gimana
kabarnya”
“ enggak mungkin sih ini ya allah, serius
setelah dia mengikuti akun ini, dia dm gini? Coba bales aja kali yah? Bismilah
deh semoga hal hal baik dateng terus terusan ya allah.”
“ waalaikumsalam, khalid”
“ alhamdulillah khair khalid, ayah bunda juga
alhamdulillah baik, gimana kabarnya khalid sama keluarga? Tumben banget
perasaan ada hal penting bukan?”
“ting..tingg”
“ hah ya allah, langsung dijawab lagi, lagi
aktif.”
“ alhamdulillah baik juga, abba sama mamah juga
baik alhamdulillah.”
“ enggak ko Zulaikha, iseng aja tadi waktu buka
handphone dapet notif kalau Zulaikha mulai balik mengikuti khalid, jadi khalid
dm aja. Kebetulan kan kita udah lama gak ketemu juga.”
“ ohh ya ampun, iyah yah udah lama banget gak
ketemu, terakhir waktu acara nikahan itu. Zulaikha juga belum sadar kalau yang
ngisi murottal itu khalid, sempet ada yang bilang sih ke Zulaikha. Zulaikha
ngiranya itu bukan khalid, soalnya emang kan Zulaikha udah lama gak ketemu dan
gak sadar juga sih.”
Khalid Rahim khan Namanya, dia merupakan masih
saudara Zulaikha, namun kalau dalam susunan mahrom, khalid bukanlah mahrom nya
Zulaikha, dan bisa dikatakan kalau memang berjodoh, mereka berdua bisa menikah.
Sejujurnya Zulaikha sendiri sudah menyukai seorang lelaki Bernama khalid itu
sejak dirinya berada di sekolah dasar. Wajahnya yang tampan seperti orang pakistan
sesungguhnya, karena memang keluarga ayah adalah keturunan pakistan. Bagaimana
Zulaikha tidak menyukai lelaki seperti khalid. Bertahun-tahun menyukai dalam
diam, dan tidak pernah mengetahui kabar tentang nya, atas izin allah qodarullah
allah mempertemukan Kembali mereka di dalam sebuah acara keluarga juga. Dan
betapa amat sangat terkejutnya Zulaikha bahwa yang mengisi murottal di
pernikahan sodara nya itu dalah lelaki yang menjadi pujaan nya selama
bertahun-tahun ini. Kalau ditanya alasan Zulaikha menyukai lelaki itu…? Bahkan
Zulaikha pun masih gelagapan menjawabnya , karena jujur saja tidak ada alasan
pasti untuk menjelaskan kepada semua orang tentang rasa yang selama ini dia
pendam sendiri, ntah dari tutur kata nya, sopan nya Ketika dia bertemu orang,
ramahnya Ketika bertemu dengan anak kecil, karena jujur dia sangat menyukai
anak-anak, dan rasa perhatiannya kepada keluarga nya. Point terpenting dari
Zulaikha menyukai khalid ini adalah, bagaimamna dia bisa menjadi seorang
penghafal al-quran. Lewat lantunan ayat yang dia bacakan itu akan mengalihkan
semua keadaan disekitar, terdegar lembut, dan bisa membuat orang merasa tenang.
Mungkin dari alasan dia atas dapat di simpulkan
bahwa ya Zulaikha menyukai khalid karena alasan alasan diatas, jadi bukan tanpa
alasan, tetapi memang ada alasan bahkan saking banyaknya, Zulaikha bingung yang
mana yang harus Zulaikha bicarakan.
***
Setelah berbulan-bulan lamanya, sekarang
Zulaikha dan khalid sudah tidak secanggung dulu dulu. Bahkan dapat terlihat,
bahwa khalid pun mulai membuka hati nya untuk Zulaikha. Mungkin ini kah cinta
yang terbalaskan? Ini kah kisah yang dialami oleh ali dan Fatimah.
Hmmm, sungguh hari hari yang dilalui Zulaikha
sekarang, semenjak kehadiran khalid, sangat penuh dengan bunga-bunga, Zulaikha
selalu tidak sabar Ketika malam sudah tiba, karena malam menjadi rutinitas dia
untuk saling mengobrol lewat dm Instagram.
“ Zulaikha, beberapa hari ke depan mungkin
khalid gak akan bisa aktif terus-terusan kaya sekarang, khalid harus balik lagi
ke pondok, untuk ngajar disana, dan kemungkinan terbesarnya khalid susah buat
aktif media sosial disana.”
Kalimat ini yang sangat dihindari oleh seorang
Zulaikha, ditinggalkan berbulan bulan lamanya. Bagaimana jika Zulaikha rindu
dengan dia? Bagaimana jika dia sedang kesusahan dan memerlukan orang untuk
tempat berkeluh kesah?
Selama ini Zulaikha sudah mencintai khalid
berkali kali lipat dari sebelumnya, dimana apapun masalahnya khalid solusinya.
Entah itu perkara kehidupan sehari hari , atau bahkan kehidupan dikeluarganya.
“ sampai kapan? Khalid balik lagi ke rumah
bulan apa? Jadi Zulaikha ditinggal sendiri nih? Kalau Zulaikha rindu gimana nih
hehe..”
“ doain aja, semoga apa yang menjadi doa
Zulaikha, allah kabulkan, kemungkinan akhir puasa khalid baru bisa balik lagi ke
rumah sampai lebaran nanti.”
Begitulah mereka, sudah mulai seperti seorang
kekasih pada umunya, kalau ditanya tentang status hubungan mereka? Jawabannya
belum ada status dan masih di gantung, baik di khalid maupun di Zulaikha
sendiri.
“ baiklah kalau begitu, khalid sehat sehat
terus yah disana, semoga kitab isa ngobrol lagi walaupun itu lewat dm, dan
semoga kita bisa ketemu juga nanti. Semoga allah selalu ngelindungin khalid
dimanapun khalid berada, dan semoga ilmu yang khalid sampaikan ke murid murid
berkah terus dan jadi amal ibadah jariyah juga buat khalid sendiri yah, jangan
lupain Zulaikha yah, inget terus sama Zulaikha disana.”
“ masyaallah, Zulaikha niat banget kayanya
ngetiknya, iyah insyaallah khalid gak akan ngelupain Zulaikha ko, makasih
banyak yah doa-doa yang udah Zulaikha ucap buat khalid kedepannya, semoga allah
mendengar dan mengijabah segala doa-doa Zulaikha. Insyaallah juga nanti kita
ketemu yah di lebaran nanti kalau emang ada umur.”
Itu adalah percakapan tersedih yang pernah
Zulaikha dapatkan, rasa rindu nya sudah terbayangkan, akankah hari-hari yang
selalu ia lewati Bersama khalid kemarin menjadi kekal? Atau malah sebaliknya?
Zulaikha tidak mau melawan kehendak allah. Yang pasti sekarang dia harus bisa
menerima keadaan bahwa dia akan ditinggalkan oleh khalid selama berbulan bulan
lamanya.
***
“ perawan baru bangun jam segini, inget nanti
gak ada yang malu oh sama kamu dek, masa sih calon istri, sama calon ibu bangun
nya siang begini.”
Yahhh hari ini dirumah ada kaka trakhirku,
Namanya Fatimah, dia merupakan teman berantemnya Zulaikha sedari dulu, tetapi
Ketika Fatimah menikah Zulaikha lah orang yang paling menangasinya. Zulaikha
kira setelah menikah, Fatimah tidak akan bertemu lagi dengan Zulaikha, karena
terbatas oleh suami Fatimah sendiri. Namun itu dalah kesalahan besar, Fatimah
dan suaminya memiliki rumah yang dekat dengan ummi nya, hanya terhalang enam
rumah saja.
“ apa sih kak ah ribet banget deh, orang udah
bangun dari tadi juga, cuman baru turun aja sekarang. Nih yah kak, Zulaikha itu
udah bangun dari adzan subuh, lanjut beres-beres kamar, mandi diem, langsung
turun kebawah.”
Kesal ku kepada kaka terakhir ku ini, begitulah
dia, sifat julid yang dia miliki tidak tau turun dari ayah atau bunda.
“ emangnya kamu udah mandi? Kok gak keliatan
udah mandi sih dek, coba-coba sini liat mukanya.” Sambal memegang kedua pipiku
menggunakan tangan nya itu
“ ihhh…. Kaka Fatimah apaan sih, pegang pegang
pipi, udah skincare an juga malah di pegang-pegang gimana kalau skincare
skincare nya gak pada masuk ke wajah wajah Zulaikha, kan jadi sia-sia.”
“aduh aduh aduh, adek aku ini ngambek yah, mau
apa mau apa biar kakak beliin supaya kamu yang ngambek.”
“ kakk ih apaan sih lebay deh ah, emangnya
Zulaikha anak kecil apa.”
Aneh sekali memang, hari-hari ku tanpa khalid
sekarang malah lebih suram, lebih bete dan lebih tidak bersemangat dari
sebelum- sebelumnya.
Sekarang ini kaka keempat ku ini selalu ada
dirumah ku karena dia dalam keadaan hamil. Dan suami nya sedang bekerja keluar kota
selalu. Jadi bunda mengusulkan untuk kak Fatimah dirumah, khawatir Ketika di
tinggal sendiri kak Fatimah melahirkan dan tidak ada orang yang membantunya.
Jadi yang seperti itu sekarang keadaan rumah, ramai seperti di pasar, kak
Fatimah yang selalu mengomentari segala hal yang aku lakukan dan aku yang
selalu membalas dari komentar kak Fatimah, dan tentu saja bunda yang selalu
menjadi penengah dinatara kita berdua.
“Fatimah, rencana kamu kapan lahirannya, bunda
rasa bunda belum tau jadwal kamu lahira.”
Tanya bunda yang sudah dipastikan tidak sabar
menunggu kehadirang cucu pertamanya dari kakak ke empatku ini.
“kalau kata dokter sih minggu-minggu ini bund,
cuman Fatimah belom tau apakah harus saecar atau normal. Soalnya kemarin kan
kepala bayi nya masih diatas belom dibawah, tapi terakhirudah dibawah bund.
Semoga aja yang terbaik buat Fatimah, minta doanya yah bund, buat kelancaran,
dan Kesehatan Fatimah nanti lahiran.”
“ aamiin sayang, insyaallah allah bakal bantu
anak bunda, kamu jangan lupa berdoa yang bener bener ke allah buat kelancaran
Kesehatan kamu. Mau itu saecar mau itu normal itu udah menjadi kehendak allah,
dan itu udah ketentuan dan pilihan allah yang paling baik buat kamu dan bayi
kamu. Zaman sekarang ini, saecar udah bukan lagi hal yang aneh, yang terpenting
sama sama ngelahirin ko.”
“ tapi bunda, Fatimah khawatir banget,
banyaknya omongan diluar sana buat Fatimah jadi gak percaya diri.” Tanya kak
Fatimah dengan wajah sedih, khawatir dan gelisah, sangat amat terlihat jelas di
wajahnya.
“ sayang, denger bunda yah, orang orang itu
hanya bisa berkomentar saja, tanpa tau bagaimamna yang terbaik buat kita, inget
ada allah, berdoa aja sama allah semoga kamu dikasih kesadaran yang sangat
berlimpah sama allah buat menghadapi orang orang yang hanya bisa berkomentar
itu. Insyalah mau apapun itu keputusannya, itu yang terbaik buat kamu dari
allah. Ada bunda, ada ayah, ada Zulaikha disini yang bakal bantu kamu nanti,
jangan sedih yah, kalau kamu terus terusan kaya gini kasian bayi kamu di dalam
perut iut sedih juga. Kita harus sambut dia dengan penuh kegembiraan dan
kebahagiaan ya sayang.” Sabar bunda menjelaskan semua jawaban dari dari apa
yang sudah kak Fatimah sampaikan ke bunda. Aku sangat berharap kelak nanti
Ketika aku sudah menemui calon imamku, lalu menikah, dan mengandung, perhatian
bunda akan seperti perhatian bunda kepada kak Fatimah, karena kalau bkan ke
bunda maka aku ke siapa?. Ah sedih rasanya jika mengingat ke arah sana.
“ iyyah bunda, makasih banyak yah, maaf Fatimah
selalu merepotkan bunda setiap hari, bunda udah mau sabar menghadapi sifat
Fatimah yang kaya gini, padahal seharusnya Fatimah sudah lebih dewasa, tapi
disini Fatimah masih tergantung ke bunda.”
“ hey, sayang gak boleh bilang kaya gitu, udah
bunda ikhlas ngebantu kamu yah, kita sama sama.”
“ makasih banyak yah bunda.”
***
Sudah 2 minggu lamanya setelah percakapan
antara kak Fatimah dan bunda, tetapi kaka memang belom ada rasa sakit di
perutnya.
“ assalamualikum, bunda” suara kak Fatimah
dateng ke rumah dan langsung mencari bunda.
“ bunda nya di wc kak kenapa?”
“ enggak nanti aja nunggu bunda.”
Tak lama datang lah bunda dari dekat wc
“tumben kamu kesini jam segini, kenapa?” tanya
bunda kepada kak Fatimah
“ bunda, tadi Fatimah udah control dan
keputusan dari dokter hari senin nanti Fatimah harus saecar, bayi Fatimah juga
udah terlalu besar 3,7 khawatir Fatimah gak bisa melahirkan normal, dan bayi
nya terus terusan gede di dalem, jadi dokter menyarankan buat di operasi
bunda.”
Jujur aku sedikit terkejut,namun ya begitulah
“ iyyah gapapa sayang, mungkin ini udah yang
terbaik buat kamu dan bayi juga, sekarang siapin diri kamu dulu aja buat
lahiran kamu yah.”
***
Seminggu telah berlalu semenjak kelahiran kak
Fatimah itu, alhamdulillah atas izin allah kak Fatimah melahirkan anak
laki-laki
“ kak Fatimah, Zulaikha izin bikin snapgram yah
poto anak kamu, tapi bakal Zulaikha tutup ko mukanya.”
“ iyyah boleh tapi bener tutup yah, takutnya
ntar kena ain nauzubillah.”
Setelah meng upload snapgram , aku segera
mengendong anak kak Fatimah lagi, namun saat sedang mnegendong ada notifikasi
“ting..ting”
“apa…………”
“suttttttt….., kamu kenapa sih anak aku nanti
bangun.”
“hehe map map kak, yaudah nih anak kamu aku
kasih kekamu, akua da urusan mendadak dulu harus ke kamar.” Buru buru aku
langsung memberikan anak bayi yang lucu itu kepada ibunya. Dan aku bergegas
lari ke kamar.
“ ya allah zulaikhaa, kalau naik tangga
hati-hati dong nanti kamu jatuh , kebiasaan deh kamu mah.”
“ MAAP BUNDA” jawabku dengan lantang dari atas
Sesampainya aku dikamar, aku lanjut menjawab
pesan DM ynag ada di handphone ku, siapa lagi akalu bukan dari khalid.
“ bukannya dia pulangnya blan nanti yah masih
tersisa 3 bulan ini, aduhh gimana ini, baper aku.”
“ kak Fatimah udah lahiran? Cewe cowo”
“ iyyah nih lid alhamdulillah udah lahiran,
walaupun banyak ujian yang enggak di sangka sangka, tapi alhamdulillah lancer
juga. Alhamdulillah cowo lid.”
“ subhanallah, kalau ujian kaya gitu mah pasti
ada aja gak sih dalam setiap keadaan, masyaallah yah semoga menjadi anak yang
sholeh, serta menjadi syafaat terbaik bagi kedua orang tua nya nanti.”
“ aamiin , makasih yah khalid, oh iyyah ko
aktif sosmed sih, bukannya masih ada waktu 3 bulan lagi yah?”
“hahaha, iyyah nih qodarullah harus balik ke
rumah ada urusan yang susah dijelasin.”
“Zulaikha, khalid mau bilang ke zulaikha, dalam
2 tahun ke depan, khalid punya rencana buat kita berdua, jadi tunggu 2 taun
yah.”
Enggak,enggak,enggak , ini gak mungkin ,
rencana apa yang dia maksud ya allah, ngelamar kah atau mau nikahin aku? Ya allah hati ini
menjadi tidak karuan seperti ini ya allah. Jujur aku malah bimbang karena
tulisan pesan yang disampaikan oleh khalid kepadaku, rencana apa yang menjadi
maksud tujuan khalid.
“rencana apa lid? Emangnya gak bisa di obrolin
sekarang?”
“enggak bisa, untuk sekarang itu terlalu dini.”
“ baiklah ditunggu 2 tahun nya.”
***
Dua tahun telah berlalu, apakabar tentang janji
yang khalid janjikan untuk ku selama ini sudah menjadi debu. Rasa sakit hati
yang dia sampaikan kepadaku sangat membuatku kehilangan arah, bagaimana tidak.
Secara terang-terangan aku tau hubungan dia Bersama perempuan lain. Yang paling
membuatku sakit pada saat aku melihat akun Instagram mereka saling berhubungan
satu sama lain. Kalimatnya sungguh manis, tetapi sangat menyakitkan.
Beberapa bulan setelah sampai di dua tahun
lamanya menunggu…
“ hai khalid? Udah dua tahun nih, jadi apa nih
janji khalid buat Zulaikha? Penasaran banget.”
“ semoga khalid bisa tepat janji sama yang
pernah khalid janjiin yah, dan semoga khalid tau rasanya diberi harapan lalu
ditinggalkan tanpa kabar.”
Aku Lelah dengan semuanya, harapan, keinginan,
dan cita-cita sudah hancur dengan begitu saja. Bahkan jawaban untuk menjelaskan
alasan mengapa tidak menepati janji pun tidak ada. Ini aku yang terlalu bodoh
mencintai, atau memang dia yang terlalu menyepelekan janji.
Minggu depan itu adalah hari pernikahan saudara
ku, dan sudah dipastikan khalid datang. Dan aku belum bisa siap untuk bertemu
dengan dia. Masih ada rasa sakit hati yang membekas dan mendalam di dalam hati.
“ Zulaikha, baju kamu udah selesai belum baju
nya?” tanya bunda kepada aku, karena baju yang di jahit tidak di tukang yang
sama dengan bunda. Kaena aku mempunyai tukang jahit andalanku sedari dulu.
“ udah bunda mau liat gak bun bajunya, bagus
tau.”
“ masyallah , iyyah bener bagus banget, emang
gak salah kamu ngejahit disana. Udah kaya kamu aja ini pengantin nya. Semoga
allah menyegerakan yah sayang.” Deg, ucapan bunda membuat hati ku tertusuk.
Teringat akan janji seorang lelaki Bernama khalid benarkah janji di aitu akan
melamarku atau itu hanya tebakanku saja. Ya allah hamba serahkan segalanya dan
memasrahkan segalanya hanya kepadamu.
***
“ya ampun kha, udah lama gak ketemu, makin
cantik aja, ayo nyusul nikah, udah ada calon nya belum? Tuh nganggur satu tuh
kek nya kalian cocok.”
Tidak anh Namanya juga pengantin baru, pasti
arah obrolannya kesana. Saat aku mengalihkan pandangan ku kearah yang ditunjuk
oleh saudara ku adalah khalid.
“ ahh, kamu bisa aja, enggak lah dia ada calon
, masa iyakan kita rebut.”
“ kalaupun di sandingin pasti kamu pemenagnya
kha.”
“hush, ah udah gak baik ngomong gitu, pokoknya
doain aja ya buat aku dan masa depanku. Ngomong-ngomong barakallahulaka
wabaraka alaika wajama bainahumma fi khair yah, buat kamu dan sekeluarga,
semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawaddah dan warahmah.”
“aamiin yaa mujibas sailiin, makasih banyak yah
Zulaikha, doa terbaik buat kamu dan sekeluarga.”
Setelah turun bersalaman dengan penganti, aku
segera pergi ke tempat makanan. Kalian paling suka masakan apa kalau di
undagan? Kalau aku sih nasi kebuli, rendang dengan buah buahan nya, ah sdah
pasti nikmat sekali. Saat aku duduk dibagian VIP ada sseorang yang
menghampiriku.
“ setelah makan, bisakah kita mnegobrol untuk
menyelesaikan permasalahan yang belum kita selesaikan?” bisik dia tepat di
telingan sebelah kananku sontak aku terkaget mendengar suara nya.
“ maksud kamu? Enggak bisa, kalau yang lain
liat gimana? Enggak ada yang harus kita selesaikan, karena semua masalah yang
belum selesai itu ada dikamu. Sekarang lebih baik kamu jauh-jauh dari aku.”
Amarahku memuncak saat mendengar omongan dia yang tidak sesuai fakta menurut
ku. Kalau dahulu ucapannya adalah candu bagiku, berbeda dengan sekarang, hanya
amarah yag keluar dari mulutku.
“ kamu gak bisa kaya gitu kha, pokoknya aku
tunggu kamu sekarang setelah kamu selesai makan untuk menemuiku di belakang ,
dekat kolam berenang disana ada tempat duduk, kita akan berbicara dan
menyelesaikan semuanya disana. Ingat aku tidak menerima penolakan.”
Sungguh dimana letak kesopanan yang ada pada
diri dia dulu, dia jauh berbeda dengan khalid yang aku kenal. Bahkan untuk
menyapa nya pun sesuatu hal yang tidak akan pernah aku lakukan lagi. Mengapa
dia menjadi seperti ini, pertanyaan yang selalu aku pertanyakan pada diriku
sendiri.
Tidak lama kemudian …
“ ayo ikut..” yaa, benar sekali khalid menarik
tanganku
“ lid sakit jangan ditarik kaya gini, maksud
kamu apa sih.” Ucapku saat khalid menarik tanganku
“ lid, kalau ketemu sodara yang lain kaya
gimana, khalid mohon banget lepasin tangan aku, khalid kamu dneger aku kan lid,
lid lepasin lid lepasin. Khalid……..!!!” akhirnya akupun berteriak dan khalid
berhasil melepas tanganku, tetapi bukan karena teriakanku, melainkan karena
tempat tujuan kita sudah sampai.
“ sekarang, khalid tanya? Zulaikha bener ada
rasa kan? Jawab kha?” ah sungguh selama ini dia kemana saja dan baru menyadari
nya sekarang, setelah dia mempunyai wanitia lain selain aku, dan disaat aku
sudah lupa rasanya mencintai seseorang yang kita sayang itu seperti apa.
“ jangan harap ada jawaban iyyah yang aku ucap
dari mulutku ini, karena jawaban dari semua pertanyaan mu itu sudah tidak ada
jawabnya lagi.” Nada aku mulai menaik
“kha, aku mohon jawaban kamu akan menjadi
keputusanku untuk kedepannya.”
“ lid, keputusan apa yang kamu maksud?
Keputusan untuk menjalin kehidupan yang lebih serius laginke depannya, dengan
memilih mana yang terbaik untuk kamu antara akua tau sofie, iyyah? Jangan
pernah menjanjikan seseorang apalagi janjinya ini sangat amat fatal. Kamu tau
kan hukum memberi janji kepada orang itu seperti apa? Kamu bahkan jauh lebih
faham dibandingkan aku? Tapi mana, dua tahun lamanya aku menunggu jawaban dari
janji kamu, tapia pa yang aku dapatkan? Enggak ada lid. Menagih pun sudah dan
pernah aku lakukankan, tapi ayang aku dapatkan hanyalah berita buruk. Kamu
malah secara terang-terangan memmpunyai kesamaan bio instragram dengan Wanita
lain. Memang ini hal sepele, tapi apa kamu sadar dengan janji kamu sebelumnya?
Atau kamu menggap janji yang kamu ucapkan itu hanyalah sebuah candaan?”
“ kha, ada alasan lain yang aku gak bisa
jelaskan ke kamu sekarang. Yang lalu biarlah berlalu, yang aku butuhkan
sekarang hanyalah jawaban kamu tentang perasaan yang kamu.”
“ dan yang aku butuhkan hanyalah jawaban dari
penantian panjangku selama dua tahun itu. Tetapi itu tidak berlaku untuk saat
ini. Dua tahunnya nya sudah lewat, dan aku sudah melupakan semuanya. Rasa
sayang aku ke kamu, rasa perhatian aku ke kamu, dan rasa percaya kepada semua
apa yang kamu ucap.”
“ kha, allah aja maha pemaaf, masa kamu sebagai
hambanya aja gak mau maafin aku?”
“ stop menyangkut pautkan allah kalau kamu
sebagai hambanya saja tidak pernah menuruti apa yang sudah jelas jelas allah
sampaikan kepada hambanya. Kamu tau ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, dan
salah satunya adalah Ketika dia berjanji dia ingkar. Disini kamu selain membuat
aku sakit dan jatuh terpuruk, kamu sudah menjadi orang yang menjadi salah satu
ciri-ciri itu. Sekarang urusi saja urusan mu sendiri.” Aku terisak, sakit
rasanya Ketika kita sudah memendam rasa kesal tu lamanya dan baru bisa
tersampaikan, niat ingin elupakan namun malah terungkap Kembali.
“aku ikhlaskan, dan aku lepaskan kamu sekarang.
Apa yang menjadi keinginanmu silahkan lakukan, kamu ingin memilih orang itu
silahkan jalani hubungan dengan dia. Aku harap perempuan itu tidak mngalami hal
yang sama, seperti yang aku alami selama menjalin hubungan bersamu. Izinkan aku
untuk bisa berdamai dengan masalah kemarin. Aku ingin lupa dengan semuanya, rasanya
sia-sia kehidupanku kemarin, dan sangat membuang-buang waktu.”
“tapii, kha, aku ingin melarmu dan menjadikan
mu sebagai istriku.”
Khalidd, mengapa bukan di dua tahun kemarin,
sakit rasanya, ucapan nya itu membuatku semakin terisak.
“ kha , aku mohon.” Allah, lembut sekali
suaranya sama seperti tahun-tahun lalu sebelum dia berkhianat.
“ tidak untuk sekarang, karena semuanya sudah
terlanjur, bahkan kamu pun belum menghapus bio yang sama dengan dia, itu
artinya kalian juga masih memliki hubungan kan. Sekarang lebih baik kamu lamar
dan nikahi dia saja. Mungkin untuk saat ini dia lebih membutuhkan mu disbanding
aku yang sudah memiliki hubungan apa apa lagi dengan kamu selain sebatas
saudara dalam keluarga. Aku kubur semua harapan dan impianku selama aku menjalin
hubungan denganmu. Terimakasih telah menjadi penyemangat dalam hidupku, tanpa
kamu aku mungkin tidak akan pernah tau rasanya sabar itu seperti apa.
Terimakasih karena khalid pernah datang untuk menjadi orang yang selalu hadir
dalam situasi apapun yang pernah Zulaikha alami.”
“sekarang, Zulaikha izin pamit, semoga ini bisa
menyelesaikan semua hal yang pernah menjadi penghalang bagi kita untuk
berinteraksi.” Sambungku
Stelah obrolan Panjang itu, aku Kembali masuk
ke dalam, tetpai bukan ke tempat acara, melainkan ke dalam kamar ku, karena
acara nya di hotel.
Di dalam kamar aku menangis sejadi jadinya, dan
berharap tangisan ini menjadi peyembuh rasa sakit ku selama ini dan tidak ada
lagi isak tangis yang diakibatkan oleh masalah ini lagi.
selamat tinggal masa lalu yang inda,
terimakasih karena pernah singgah namun tak sungguh….