sebuah harapan, yang muncul dari sebuah kesempatan, akankah semuanya sesuai harapan?

 

Sebuah harapan  

Zulaikha akbar , merupakan nama kepanjanganku. Cukup indah bukan, ayah ku memberi namaku Zulaikha karena beliau menyukai kisah cinta antara nabi yusuf dan Zulaikha. Maka dari itu ayahku menamaiku Zulaikha. Aku berasal dari keluarga besar, benar sekali aku adalah anak ke 5 dari 5 bersaudara. Tetapi dari ke empat kaka ku, hanya aku yang belum berkeluarga. Bukan tanpa sebab, aku masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas yang ada di kota hujan ini.

“ Zulaikha, cepat turun kebawah sayang, bunda udah masakin kamu sarapan.”

Benar sekali, itu adalah suara bunda ku, bunda yang paling bawel, dan cerewet, namun penyayang kepada semua anak anaknya terutama aku. Akhirnya aku pun menuruni anak tangga dan bergegas ke meja makan untuk makan Bersama ayah dan bunda. “ kha, tugas akhir kamu gimana? Udah selesai belum?” tanya ayah kepada aku, karena memang aku saat ini sudah menginjak semester terakhir dan sedang menunggu untuk wisuda. “ ayahhhhh, mangkanya jangan sibuk ngurusin kerjaan kantor mulu, sampe lupa anaknya udah sidang tinggal nunggu wisuda.” Ya begitulah ayah ku, jika sudah sibuk lupa dengan semua kegiatan anak anak nya. “ masyaallah , ternyata putri bungsu ayah sudah mau selesai kuliah nya, tinggal kerja. Soal kerja kamu jangan bingung, biar kerja di kantor ayah aja, sudah pasti kamu ga akan mikirin apa apa lagi.”

Jujur aku sangat membeci omongan ayah ku jika sudah menyangkut pautkan dengan kata “tenang, ada ayah.” Bukan berarti aku membeci ayah ku jika dia ingin menolong ku. Akan tetapi, sampai kapan aku terus dikekang seperti ini. Mungkin menurut kalian menjadi aku itu sangat menyenangkan, namun pada kenyataan nya menjadi aku sangat amat menderita. Selama 22 tahun aku hidup di dunia yang fana ini, tidak ada satu pun hal- hal yang aku jalani dengan keinginan ku. Mulai dari aku menduduki bangku TK, SD, SMP, SMA, bahkan di bangku perkuliahan.

Berbeda dengan ke empat kaka ku, mereka semua menjalani kehidupan Pendidikan sesuai apa yang mereka mau dan mereka cita-cita kan. Setiap kali aku menanyakan alasan kenapa aku selalu dituntut, mereka akan menjawab bahwa aku adalah anak bungsu, dan sudah ada pengalaman dari kaka – kaka ku. Menurutku sudah menjadi hal kuno sekali, jika aku selalu di tuntut seperti ini, sedangkan mereka tidak paham betul dengan apa yang aku mimpikan dan cita-cita kan. Terkadang aku ingin kabur dari penjara tak ber jeruji ini, tapi bagaimana dengan nasib kedua orangtua ku. Mereka akan merasa gagal telah mendidik seorang anak seperti ku, mereka akan kecewa dengan apa yang sudah aku jalani.

Jam sudah menunjukan pukul 09.00 , aku pun langsung bergegas Kembali ke kamar untuk membereskan tempat tidur dan yang lainnya. Ayah sudah berangkat kerja lagi, sesaat setelah aku, ayah, dan bunda sarapan Bersama. Karena hari ini aku sudah tidak ada lagi kegiatan di kampus, niatnya aku akan menonton bisokop seorang diri. Jika ada yang menayakan kepada ku dimana letak teman teman ku, maka akan ku jawab, mereka berada di posisi nya masing-masing. Mereka semua hanya membutuhkan ku disaat mereka butuh saja, tetapi aku tidak terlalu menghiraukan dan memikirkan nya. Toh jika mereka sadar atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku, mereka akan membalik kan badan mereka Kembali dan Kembali ke hadapan ku dengan embel-embel kalimat “ kha, lu sibuk ga? Gua lagi stress nih, butuh temen cerita, dan gua rasa lu adalah orang yang tepat untuk gua bercerita.” Apakah aku dendam kepada mereka? Atau aku merasa kesal?. Dulu mungkin akan aku jawab “iyah” namun seiring berjalan nya waktu saat ini aku akan mejawab “ tidak.” Tak ada gunanya membeci seseorang yang mana tidak ada keterlibatan antara kehidupan ku dengan mereka semua.

Setelah selesai bersiap- siap untuk berangkat, aku Kembali turun ke lantai bawah untuk berpamitan kepada bunda. “ bunnnnn, Zulaikha keluar dulu yah, mau me time , because Zulaikha sudah boring diam menyendiri di rumah seorang diri, apalagi tak ada sang pangeran yang menjemput, lebih baik Zulaikha pergi saja seorang diri.” Ucap ku kepada bunda  yang cantiknya tiada tara melebihi bidadari-bidadari syurga kalau kata ayah. “ Zulaikha…!!! Kebiasaan deh bunda nya tuh gak budeg, lagi di rumah ini tuh bukan di goaaaa, bunda juga ada disini kenapa sih mesti teriak-teriak ah, mana dari atas lagi. Ngomong nya yang baiklah sayang.” Ucap sang bunda tercinta kepada putri bungsu nya. Kebiasaan anak bungsu nya ini yaitu, berteriak di rumah dan selalu dimarahi oleh bunda adalah bumbu-bumbu keramaian di rumah keluarga akbar ini. “ hehehehe, saya atas nama Zulaikha akbar binti akbar ahmad meminta maaf atas kesalahan yang saya lakukan karena telah berteriak kepada sang bunda tercinta ini, saya harap bunda memaklumi anak bungsu nya yang cantik serta sholehah ini.” Dibalik sikapnya yang ceria, bawel, cerewet, pecicilan, heboh, dan lain nya. Percayalah diluar sana dia sangat amat kalem, pendiam, namun tidak sampai menyendiri di pojokan, dulu iyah tapi sekarang tidak. Ia sekarang bisa sedikit bersosialisasi, karena jurusan yang dia pilih di perkuliahan yaitu psikolog, jadi tidak ada alasan untuk tidak ber sosial.

“ Zulaikha, udah rapi aja kamu, mau kemana sih.”

“ yehhh, bunda nih, Zulaikha kan tadi dah izin ama bunda, kalau zuaikha ini mau nonton bioskop.”

“ sendirian aja kamu ? apa samaaaaa.” Goda sang bunda nyaa.

“ ahhhh bunda apa sih, orang Zulaikha sendirian aja kok, lagi siapa sih yang bunda maksud.”

“ iyah deh percaya, yaudah sana hati-hati yah kamu. Jangan pulang malem-malem, ayah tau, nanti bunda yang dimarahin.”

Usia bukan batas kebebasan bagi Zulaikha, baginya umur boleh 22 tetapi tentang perizinan main, seperti anak smp yang menginjak tahap remaja. “ bunda, udah deh Zulaikha sekarang 22 tahun, udah bukan remaja lagi, tapi dewasa, Zulaikha paham ko.” Setelah perdebatan tiada tara antara ibu dan anak, akhirnya Zulaikha pun bergegas pergi meninggalkan rumah dan bunda nya untuk pergi ke bioskop.

Hari ini hari rabu jadi tak banyak orang yang mendatangi bioskop, mungkin saja penuh tetapi bukan disaat jam aku menonton. Bau khas yang ku hirup, hah sungguh sangat aku rindukan sudah pasti asal bau ini terletak pada mbak-mbak berbaju putih itu. Popcorn, benar sekali. Aku memutuskan untuk membeli satu popcorn ukuran sedang dengan satu minuman red velvet. Aturan yang benar itu membeli tiket dulu baru membeli makanan nya bukan. Tapi tidak berlaku bagi aku Zulaikha akbar, karena menonton nya saja dadakan dan bingung akan menonton judul yang mana. Akhirnya aku pun membeli makanan ringan nya dulu sambil memikirkan film apa yang akan aku tonton, lalu membeli tiket untuk menonton nya.

“ mau nonton apa kak?” tanya perempuan berbaju kemeja berwarna putih kerudung berwarna krem dan menggunakan bawahan  rok batik, lengkap dengan hiasan make up  cantik namun tidak tebal yang menjadi daya tarik dirinya.  “ dear allah yang jam 13.00.” setelah membeli dan mengambil tiket , lantas aku pun bergegas masuk ke dalam studio karena pengumuman pintu studio yang akan aku tempati sudah di buka. Banyak pasang mata yang mengarahkan pandangan nya kepadaku. Apakah salah jika aku menonton bioskop hanya sendiri, dan tidak membawa teman menonton atau Bersama pasangan layaknya orang yang ada di sekitar ku. Ah sudahlah, lagi pula aku bersikap bodo amat atas tatapan itu. niat awal ku ingin menonton hanya sebagai penghibur, pengisi waktu luangku.

Ternyata menonton seorang diri bukan masalah besar. Aku merasa enjoy dan yahhh senang seperti biasa nya. Jangan harap setelah menonton aku akan langsung pulang ke rumah. Jika kalian menebak itu, maka tebakan kalian salah. Tentu ini kesempatan emas ku. Lantas aku melanjutkan agenda seharian full dengan diri aku sendiri ku tentunya.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00 dan aku masih di dalam mall yang aku tuju seorang diri. Karena aku ingin setelah sampai dirumah ingin bersantai saja, akhirnya aku pun memutuskan untuk shalat di dalam mall tersebut.

Tetapi sesampai nya di rumah.

“ kha, sudah jam berapa ini, inget waktu gak sih kamu kalau main, kebiasaan kamu gini nih, suka lupa waktu pulang, jam segini baru sampe rumah. Keluar dari jam berapa kamu.?”

Sudah tidak aneh jika aku pulang melebihi waktu magrib, maka akan disambut dengan kata- kata yang baru saja diucapkan oleh orang yang satu satunya berkuasa di rumah ini. Siapa lagi kalau bukan bapak akbar satu ini. Kebebasan waktu pun tidak di dapatkan oleh ku sebagai anak bungsu. Ntah dosa apa yang telah ke empat kaka-kaka ku lakukan, hingga imbas nya malah kepada anak terakhir yang tidak berdosa ini. Siapa lagi kalau bukan aku, Zulaikha akbar binti akbar.

“ yahh, ayah tu sebenernya mau apa sih dari Zulaikha, semua apa yang ayah omongin selalu Zulaikha turuti, ayah suruh Zulaikha gini, Zulaikha turuti, ayah suruh Zulaikha kaya gitu, Zulaikha turuti. Bahkan disaat Zulaikha mempunyai celah untuk terbebas dari perintah ayah yang Zulaikha pikir, terus terusan dituju ke Zulaikha, ayah bahkan masih enggak ngasih celah buat Zulaikha ber ekspresi seperti kebanyakan orang.” Nada ku mulai tak bisa disebut wajar untuk sekarang. Karena sejujurnya tak seharusnya aku menggunakan nada berbicara seperti itu kepada ayah ku yang notabene nya sebagai orang tua ku. Bisa-bisa jika orang melihatnya, aku akan disebut sebagai anak durhaka, walau pada kenyataan nya sebenernya aku sedang membela apa yang selama ini aku pendam. Bukan karena hal- hal yang bersifat negative.

“ maksud kamu apa? Kamu melawan ke ayah?” lihat, aku bukan melawan, hanya saja aku berpendapat tentang apa yang selama ini aku alami.

“ ayah, zulaikha masuk jurusan psikolog, Zulaikha selalu mendengarkan curhatan orang, Zulaikha selalu memberi saran apa yang sedang menjadi topik masalah dari setiap pasien Zulaikha. Tapi disisi lain Zulaikha merasa tidak pantas, dan sedih. Apa yang Zulaikha beri kepada mereka semua, sejujurnya tidak pernah Zulaikha dapatkan dari siapapun, Zulaikha bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka, tapi siapa yang menjadi pendengar yang baik bagi Zulaikha. Zulaikha memberi saran masalah kepada mereka, tapi Zulaikha tidak pernah diberi saran yang baik jika ditimpa masalah. Jadi disini sebenernya mereka yang membutuhkan Zulaikha, atau Zulaikha yang sebenernya gilaa.”

Amarah Zulaikha, sudah benar-benar memuncak. “ Zulaikha, ayah belum selesai bicara..!!!”

Panggil ayah nya kepada Zulaikha yang memang setelah apa yang sudah dia keluarkan Zulaikha langsung pergi meninggalkan tempat perdebatan mereka tadi. Dan langsung memasuki kamar terindahnya diantara kamar kamar yang lain kalau kata Zulaikha. “bughhh…!!!” terdengar suara pintu yang ditutup dengan kencang, yang menandakan bahwa seseorang yang menutup pintu tersebut sedang benar-benar emosi tingkat tinggi atau level hard.

Menangis? Tentu tidak, entah sudah kebal karena pengalaman atau memang rasa sedih tertutup oleh rasa kesal. Maka dari itu, untuk keluar nya saja mungkin terkalahkan oleh amarah. Lagi pula apa yang menjadi masalah Zulaikha hari ini? Hanya karena dia pulang larut yang menurut kalian jika dibahas perihal permasalahan tadi itu, ya bisa dibilang belum larut, benarkan?...

Setelah masuk kamar dengan penuh amarah tadi, Zulaikha langsung bersih bersih badan, dan ya tentu saja jika sudah di dalam kamar melihat Kasur, siapa yang bisa menolak lambaian panggilan dari si empuk satu itu. Mungkin menerima tawaran dari si empuk satu itu bukan masalah, itung-itung  sambil menuggu waktu isya, pikir Zulaikha.

Sementara itu diluar kamar Zulaikha, masih ada percakapan antara suami istri yang sedang saling beradu argument.

“ yahh, udahlah, Namanya juga anak muda, lagi pula tadi Zulaikha juga udah izin sama bunda. Bunda juga percaya sama dia ko yah, kalo dia gakan ngebohongin kita juga, disaat jadwal sholat juga dia ga akan tinggalin begitu aja. Dia juga udah 22 tahun yah, apa sih yang mesti dilarang dari umur segitu. Udah dewasa juga bukan remaja lagi, udah tau mana yang baik buat dia dan mana yang gak baik buat dia yah.”

Mungkin bisa dibilang ini sebuah belaan dari sang bidadari tak bersayap di rumah ini, kepada sang raja satu satunya di rumah ini. Benar sekali, kalau aku tidak lupa memberi tahu bahwa keluarga akbar ini memang didominasi oleh bidadari semua, yang artinya tidak ada anak laki-laki dikeluarga ini terkecuali ayah Zulaikha, dan mungkin suami dari kakak-kakak nya Zulaikha.

“ bunda, maksud ayah bilang kaya gitu ya biar dia mikir gitu loh bund, pergaulan diluar sana itu udah gak bisa dikontrol lagi. Gak mandang dia dewasa atau remaja, gak mandang dia umur 15 tahun, 17 tahun, 22 tahun atau bahkan yang lebih dari usia Zulaikha. Ayah tuh ingin mendidik dia dengan benar. Ayah larang dia begitu dan larang begini tuh, bukan untuk ayah, tapi untuk dia sendiri juga. Ayah ingin dia itu menjadi perempuan yang baik baik, yang sesuai dengan apa yang sudah menjadi cerminan perempuan seharusnya. Ingat bund sekali lagi, ayah disini itu bukan mengekang dia,tapi disini ayah mendidik dia, agar dia menjadi perempuan yang baik. Bukan tanpa alasan tapi untuk dia juga.”

Namanya juga orang tua, selalu bahasan nya takut, dan khawatir jika anak-anaknya salah pergaulan, atau bahkan takut anak-anaknya terjerumus kepada hal yang tidak baik. Tapi percayalah, Zulaikha bukan anak seperti itu. Terlebih didikan agama sudah ditanakan sedari kecil baik untuk Zulaikha, atau untuk kakak-kakak nya yang lain.

“ iyah ayah, bunda paham kok, tapi percaya deh sama bunda, insyaallah atas izin allah dan doa dari kita sebagai orang tua, mereka semua bukan hanya Zulaikha, tapi kakak-kakak dia yang udah nikah, bukan termasuk dan tergolong kepada apa yang ayah maksud itu. Kunci nya satu, kita terus kasih nasehat nasehat buat mereka aja cukup kok. Lambat laun juga mereka bakal mikir sendiri yah. Yang pasti tugas kita sebagai orang tua sudah terpenuhi.”

Tambahan dari bunda untuk menghindari fikiran negative sang suami untuk sang anak bungsu nya ini.

“ mending sekarang kita istirahat aja, besok juga pasti udah biasa lagi kok.”

Setelah perdebatan yang bisa dibilang menguras emosi antara ayah dan aku tadi. Tak terasa waktu sudah larut, setelah sholat isya tadi, aku sempat melakukan aktivitas rutin ku sebagai seorang perempuan pada umumnya. Apalagi kalau  bukan skincare. Di zaman yang bisa dibilang generasi z ini percayalah tidak ada satu perempuan pun yang tidak menggunakan skincare. Benar bukan? Jawab jujur untuk kalian para kaum hawa di dunia ini. Bahkan aku bingung, untuk anak di usia belasan saja sudah ada skincare nya. Dulu pada zaman aku, aku tidak pernah mengenal apa itu skincare, setelah menginjak bangku kuliah, dan status ku berubah yang asalnya siswa menjadi mahasiswa, barulah aku tau skincare itu seperti apa. Ternyata bukan hanya cuci muka asal saja, ada tahapan dan tatacara yang harus diikuti, dan dipenuhi. Yahhhh memanglah aku benarkan bahwa zaman sekarang memang lah zaman serba maju. Bahkan ponakan ku saja yang masih bayi sudah ada skincare khususnya. Aku jadi memikirkan dua kali lagi dan mempertimbangkan antara menikah dan mempunyai anak. Pengeluaran yang begitu banyak sudah membuatku bergidik. Akan aman jika aku berjodoh dengan bos besar, namun paitnya jika bukan? Berabe bukan.

Ah sudahlah, mengapa aku membahas tentang per skincare an ini. Aku bukan ahlinya, dan aku juga sedang tidak mempromosikan sebuah produk. Jadi  mari kita selesaikan bahasan kita mengenai skincare ini dan lanjut tidur saja. Sudah cukup tentang hari ini, nampaknya dibalik kata Bahagia itu, ya tidak selama nya akan abadi, pasti saja selalu ada ujung masalahnya.

***

Hari-hari pun sudah berlalu, perdebatan antara ayah dan anak bungsu nya itu sudah berakhir damai. Lagipula kesalah pahaman, perdebatan, atau apalah itu Namanya di lingkup keluarga itu, bukan sesuatu yang aneh, dan memang selalu ada sebagai penghias , bukan sebagai penghalang pemandangan sebuah rumah.

Ohh iyah, kalian tau, hari ini dirumahku sedang kumpul semua kakak-kakak ku beserta suami dan anak-anaknya yang imut , menyebalkan, namun tetap sholeh dan sholehah ini. Eitsss tapi bukan ada acara lamaran ku yah, jika kalian berfikir dan menenbak seperti itu. Kalian sangat amat salah besar. Besok adalah hari wisuda ku, sudah dapat dibayangkan betapa riwehnya keluarga ku, mulai dari ayah, bunda, kakak-kakaku, kakak-kakak ipar ku, dan ponakan-ponakan tercintaku ini. Ramenya mereka, ribetnya mereka, sudah seperti akan ada acara pernikahan , padahal ini hanya acara wisudaku saja, yang mana jika kalian tau alur wisuda itu seperti apa, yaaa pastilah akan berfikir “ ya allah niat bat keluarganya.”

Yang masuk kedalam Gedung itu hanya aku dan perwakilan keluargaku saja, itu pun hanya satu orang, sisanya mau tidak mau harus menunggu diluar. Sungguh aku sudah membayangkan, betapa kasian nya kakak-kakak ku ini nantinya. Tapi mau bagaimana pun mereka seperti ini , ya karena mereka antusias dan senang atas pencapaian akhir ku ini. Apalagi aku adalah anak terakhir. Tidak bisa dipungkiri bagaimana lega dan bebas nya nya nafas ayahku saat ini. Beliau telah berhasil melahirkan kelima anaknya menjadi sarjana semua, walaupun pada kenyataan nya, kakak-kakak itu menjadi ibu rumah tangga semua. Bukan atas keinginan mereka, tetapi atas arahan dari suami suami mereka, yang mana arahan atau perintah suami itu mau tidak mau harus dipenuhi dan dilaksanakan. Syurga mereka bukan lagi terletak pada bunda, tetapi pada suami mereka masing-masing.

“mityyyyyyyyyy, kok gak buka pintu kamar nya sih, aku kan kangen sama mityy, emang mityy gak kangen sama akuu?” teriak bocah lelaki diluar pintu kamarku. Ahh jika sudah ada pasukan bocah bocah itu, pasti saja selalu membuat kamar ku berantakan, seperti kapal pecah. Satu waktu pernah ponakan manis ku ini bermain Bersama di kamarku, habis sudah satu botol shampoo dan pecah botol parfume,skincare ku. Alhasil, kamarku dipenuhi dengan aroma wangii yang terlalu berlebih, sampai-sampai aku harus mengungsi ke kamar sebelah. Karena menghirupnya saja membuatku pusing. Ingin sekali aku marah kepada anak anak yang lucu itu, namun apalah daya, tak ada guna nya juga memarahi mereka. Mungkin aku arahkan dan lebih ke memberi wejangan kepada mereka, apa apa saja kesalahan mereka, dan mereka harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah mereka lakukan. Paling tidak jika kita melakukan kesalahan, jangan lupa untu meminta maaf atas apa yang sudah kita lakukan itu. Ini bukan perihal barangnya tetapi, tanggung jawab dari diri mereka.

“ apa sihhhhh khawarijjjjj anak ku yang ganteng nya masyaallah, yang sholehnya masyaallah, yang pinter dan cerdas nya masyaallah, yang kelakuannya nauzubillah tapi mityyy sayang ini.” Begitulah aku soal ke friendly an jangan diragukan lagi. “ kangen gak mesti kudu masuk ke kamar mity yah, ntar mitty berabe lagi beresin kamar hasil karya mu itu.” Akhirnya Zulaikha pun bergegas keluar Bersama ponakan nya dan turun kebawah untuk berkumpul dengan anggota keluarga yang lainnya.

Jangan aneh, karena pernah dibahas bahwa keluarga Zulaikha itu kelurga besar, jadi sekalinya ada acara perkumpulan selalu saja ada acara bakar bakaran, makan Bersama atau bahkan sekedar suki-sukian. Bahasan tiap bahasan keluar dari mulut masig masing sang kakak kepada sang adik, antara kakak ipar dan adik ipar.

“dek, gimana nih setelah lulus?” tanya suami dari kakak ke tiga ku

“ maksudnya gimana kak? Ya alhamdulillah, of cours seneng banget, karena ya udah terbebas dari dosen dosen yang masyaallah banget lah semangat mengajarnya tuh, apalagi dosen yang mengharuskan Zulaikha untuk bergadang tiap harinya. Ah itu kaya udah deh alhamdulillah banget sih aku kak.”

“ hahaha, dasar kamu nih. Tapi bukan itu yang kaka maksud. Kedepannya kamu mau kaya gimana nih?.” Ya begitulah sebenarnya Zulaikha  sudah paham betul tujuan arah pembicaraan itu kemana.

“ ya kerja lah kak, apalagi.”

“ nikah dek nikah, gimana tuh kalau itu, udah ada calon kah atau belum nih, masa iyah perempuan sholehah kaya zulaikha akbar ini gak ada yang naksirin.”

“ aduhhhh, kak ahmad mulai deh, bahasan nya terlalu jauh ah, Zulaikha males nanggepinnya, baru juga mau wisuda besok, udah ditanya kearah sana. Lagi kan Zulaikha juga mau happy happy dulu gitu.”

“ nah kalau belum kakak kebetulan punya kenalan lelaki yang cocok banget buat kamu, siapa tau kalian emang berjodoh dan ya cocok juga.” Nah kan sudah ku tebak arah main nya kemana.

“ kak ahmad yang baik hati dan rajin menabung, serta penyayang anak dan istrinya. Udah deh bahasan nya, tentang jodoh pokoknya udah deh, kita skip dulu yah. Mending sekarang kita rayakan dulu pra wisuda Zulaikha buat besok nih okeh gak.”

Pada akhirnya semua berenti membahas terkait dengan perjodohan ini. Dan mereka melanjutkan kegiatan have fun keluarga mereka. Namun Sebagian kaka nya ada juga yang sudah masuk kamar, sekedar meniduri anak anak nya yang masih bayi karena ini sudah waktunya bagi para malaikat kecilku beristirahat. Aku memang belum menikah, dan mempunyai anak, tetapi kehadiran keponakan keponakan ku sudah seperti anak bagi aku.

Keesokan harinya, Zulaikha sudah tampil dengan riasan wajah cantik simple, namun sangat pangling kalau kata orang orang , dan ini bukan hasil riasan MUA. Ini adalah hasil kreasi keahlian tangan Zulaikha sendiri, menurutnya menyewa MUA sangat amat menghamburkan banyak uang, walau pada kenyataan nya ya dia tinggal menggesek uang tersebut di ATM nya. Namun tetap saja, selagi kita  bisa dan mampu untuk melakukannya sendiri, mengapa harus kita mengandalkan orang lain. Itung itung iseng dan punya pengalaman baru juga.

kebaya warna pastel yang dia kenakan merupakan bekas kebaya pertunangan kakak nya yang keempat. Seperti yang sudah dikatakan di atas, Zulaikha itu anaknya hemat, dan tidak ambil pusing, selagi ada dan masih bisa dipakai, kenapa tidak kita memanfaatkan nya lagi.

“ masyaallah tabarakallah, anak bunda cantik banget siiii, bundanya siapa sih sampe anaknya bisa secantik ini.”

Halah selalu saja seperti itu bahasan nya,tapi bukan berarti aku risih, namun itu sudah menjadi pernyataan umum orang-orang bukan. “ ihh bundaaa, udah deh yuk kita berangkat aja, biar kakak-kakak dan para bontot nya menyusul nanti aja, kalo ditunggu nanti Zulaikha telat.”

Acara demi acara pun telah dimulai, pemanggilan para wisudawan pun sudah dilaksanakan. 3 jam lamanya acara wisuda ini berlangsung. Setelah acara wisuda ini selesai, lantas Zulaikha dan keluarga nya pun berfoto Bersama di salah satu studio foto ternama di kota bogor ini.

***

Hah, sungguh melelahkan acara hari ini. Tapi walaupun melelahkan, agenda hari ini pun cukup mengasikan. Dari mulai awal hingga akhir. Sampai pada akhirnya, kebahagiaan itu tidak lama bersemi di kehidupan ku.

“ Zulaikha, kalau sudah selesai tolong turun kebawah sayang, bunda ayah dan kakak kamu ingin membahas sedikit masalah.” Ya rabb cobaan apalagi yang akan engkau serahkan kepadaku sebagai hamba yang lemah seperti ini. Sesal ku dalam hati setelah mendengar ucapan dari bunda.

Setelah semuanya selesai dan aku sudah bersih bersih badan, aku pun memutuskan untuk turun kebawah dan berkumpul Bersama keluarga yang lain.

“sayang, kamu tau kan bunda sekarang udah bukan bunda yang dulu lagi, bunda yang sehat, bunda yang bugar. Tetapi saat ini bunda sudah memiliki permasalahan dalam Kesehatan bunda ini. Kamu tau, bunda sudah mengidap penyakit ini sudah lama. Bahkan masa-masa SMA mu dulu di isi dengan hari-hari Bersama bunda di sebuah rumah sakit yang bahkan kita berdua pun belum tau tata letak kota itu seperti apa. Tadi sekitar beberapa jam yang lalu, bunda di informasikan oleh pihak rumah sakit sana, dan diharuskan untuk berobat Kembali lagi, karena jujur hasil dari yang lalu memang tidak membuahkan hasil yang baik. Dan disini bunda sudah berdiskusi dengan yang lain, perihal siapa yang akan membantu bunda. Dan sesuai kesepakatan Bersama juga, tanpa, mengurangi rasa ke tidak enakan bunda ke kamu. Bunda harap kamu mau membantu dan menolong bunda seperti dulu lagi. Mengingat yang lain sudah mempunyai tanggung jawab masing-masing.”

Sungguh, kalimat ini , kota, bahkan rumah sakit nya saja masih menjadi trauma ku. Dan sulit untuk dihilangkan, walaupun sudah bertahun-tahun lamanya. Aku tidak masalah, namun bagaimana dengan tanggung jawab kakak-kakak ku yang lain. Setiap ada masalah seperti ini, selalu aku yang diandalkan, selalu aku yang dijadikan alasan mereka. Bahkan untuk inisiatif ayah ku pun tidak ada. Lantas jika sudah seperti ini, dan sudah diberi tanggung jawab seperti ini, aku bisa apa? Menolak nya pun tidak tega, jujur jika ada hal-hal yang tidak mengenakan seperti ini, mereka semua selalu melimpahkan nya kepadaku. Bukan nya tidak mau, namun aku mempertanyakan tanggung jawab kakak kakak ku yang lain. Oke aku bisa mentolerasikan nya untuk sekarang. Tetapi beberapa tahun yang lalu? Mereka kemana.

Mau tidak mau, suka tidak suka, terima atau tidak. Pada intinya aku memang harus pergi, bagaimana pun juga, selain aku, maka siapa lagi yang akan menolong bunda. Bunda dan aku akan berangkat pada hari rabu nanti. Entah menggunakan kendaraan pribadi, atau menggunakan jasa travel.

“ insyaallah, akan Zulaikha bantu, semampu dan sebisa yang Zulaikha bisa.”

Aku harus memulainya dari nol, pikirku. Setelah diskusi keluarga itu, lalu aku langsung beranjak ke kamar. Bukan karena murung, hanya saja aku ingin istirahat karena kegiatan tadi sangat amat membuatku Lelah. Sesampainya dikamar aku bukan beranjak ke Kasur melainkan duduk dan menghirup udara malam di balkon kamar ku, dengan pemandangan rumah rumah tetangga tetangga ku. Haaaa….. udara ini, merupakan udara yang aku rindukan, udara sejuk setelah hujan memang sangat amat menjadi pendukung waktu merenungku. Sambil membawa sebuah buku dan bolpoint. Disaat -saat seperti ini aku selalu menulis keluh kesahku di dalam sebuah kertas berwarna putih.

Hari rabu pun telah datang, aku dan bunda sudah dalam perjalanan menuju kota yang memiliki Gedung sate. hari ini jalanan sedikit macet, ya kapan sih bandung gak macet, tanya ku pada diriku sendiri. Lalu Lalang dan banyaknya orang, memakai seragam, dan tidak memakai seragam, menjadi penghias pagi hari di kota ini. Aku dan bunda sudah sampai di salah satu rumah sakit paling terkenal di kota ini. Padatnya orang di dalam tidak dapat dipungkiri, sama padatnya seperti di lampu merah yang aku lewati tadi. Baik tua maupun muda, kalian akan menemui nya ditempat yang aku tuju ini. Baik anak kecil maupun orang dewasa. Kesedihan ku muncul, iba kupun datang. Jujur dalam hal seperti ini aku mudah sekali mengeluarkan air mata, bagaimana tidak,semangat mereka sangat tinggi untuk bisa sembuh seperti dulu kala. Sama hal nya seperti bundaku ini, bertahun tahun lamanya sampe saat ini semangat bunda sangat tinggi untuk bisa sembuh, walau selalu digantung harapan oleh dokter disana, itu yang membuatku merasa kasihan kepada bundaku. Tidak ada imbal balik bagi semangat juang sembuh untuk bundaku.

“teh, boleh nitip gak anak aku, bentar aja, kebetulan mau ke ruangan itu dulu sebentar mau konfirmasi buat azhan bentar.” Tanya ibu ibu muda sekitar usia 24 tahun nan tidak jauh berbeda dengan ku kelihatannya. “ oh iya teh boleh, gapapa ko disini aja, kebetulan lagi nunggu bunda aku juga ko.” Azhan merupakan nama yang aku jarang dengar dan juga istimewah sekali. Tetapi saat aku melihat anaknya aku sedikit terkejut nampaknya azhan ini bukan anak seperti biasanya, namun dia memiliki keistimewahan diantara anak anak yang lain. “ aduh teteh, makasih banyak yah mau direpotin sama aku. Ngomong ngomong teteh kesini berdua aja atau gimana? Asalnya dari mana?” tanya ibu muda ini kepadaku, karena aku anak psikolog, paling tidak sedikit lebihnya aku paham bagaimana karakter perempuan ini saat  mengajak mengobrol dengan ku. Penyabar, menerima keadaan apa adanya, ceria, dan selalu menjalani apa yang sudah menjadi konsekuensinya. “ gak sama sekali direpotin kok teh, lagi azhan nya juga anteng ko baik banget yah dia, ngerti lagi dimana gak mau ngeribetin mamahnya. Kebetulan iyah nih aku berdua doang sama bunda, aku asalnya dikota hujan paham lah yah dimana hehe kalau bukan bogor tercinta.” Aku memang seperti itu, gampang akrab dengan orang banyak, karena mungkin basic psikolog ku memang sudah mandarah daging.

“ azhan ini punya kelainan diantara anak-anak lainya, azhan ini sudah dinyatakan downsyndrome sejak usia nya baru mengijak 3 hari, awalnya aku gak nerimain ini, karena aku sempet mengeluh tentang cobaan apa lagi yang allah percayakan kepadaku ini. Disaat orang orang diluar sana sedang kumpul Bersama keluarga nya, ayah ibu ku sudah meninggalkan alam dunia ini terlebih dahulu sejak usiaku 17 tahun, itu ujian paling terberat yang pernah aku rasakan. Mereka berdua mengalami kecelakaan, saat sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat. Aku tidak mempunyai adik maupun kakak, aku hidup hanya sebatang kara. Untungnya ada adik dari ibu ku yang mau mengurus dan menolongku sampe aku sekarang ini. Tidak membedakan antara aku ponakannya dan anak kandungnya. Beliau membantu perkuliahanku, ya walaupun tidak sepenuhnya keinginanku, tetapi aku tetap menjalani nya, karena aku yakin apa yang sudah adik ibu ku arahkan untuku adalah hal baik bagi aku juga. Belajar menerimaan keadaan selalu aku pelajari walau pada kenyataan nya ingin memberontak. Lulus kuliah, qodarulah aku langsung menikah dan yah kebagiaanku sangat amat memuncak, aku berpikir bahwa sekarang aku tidak sendiri lagi. Tapi kebahagiaan itu semu, saat aku melahirkan azhan, allah memberi ujian lagi kepadaku yang menharuskan aku untuk berjuang Bersama suami. Tapi yam au bagaimana lagi, ini sudah ketentuan allah, aku sebagai hamba nya yang banyak dosa hanya bisa menerima nya dengan ikhlas, dan menjalani nya dengan penuh senyuman, walaupun lain hati lain juga mulut dan pikiran.” Cerita ibu muda ini kepadaku, karena mungkin dia hanya ingin berbagi kisah dan pengalaman nya saja kepada aku. Sesaat setelah dia mengetahui bahwa jurusan yang aku geluti itu psikolog.

Pengalam ibu muda ini sangat amat membuat pikiran ku menjadi terbuka. Penderitaan ku selama ini hanya suruhan dna kebebasan saja, tetapi selama ini setelah aku menjalaninya tidak ada hal hal aneh yang menjadi imbas nya, malah hal hal positive dari hasil yang sudah diarahkan sebelumnya dari orang tuaku. Tetapi tetap saja ada sedikit kesalahan menurutku jika ayah terlalu mengekang ku walau pada intinya ingin anaknya berada di jalur yang tepat.

Tak terasa, konsultasi bunda dengan dokter pun sudah selesai, kalian tau keajaiban apa yang allah beri bagi keluarga ku? Bunda dinyatakan sembuh dari penyakit yang diidapnya. Benjolan kecil yang ada di ginjalnya sudah ilang, karena atas kuasa allah. Aku pun ikut senang dan gembira atas kabar ini. Aku langsung memeluk bunda dan merasa tidak menyangka.

Setelah kabar gembira itu, Zulaikha lantas pergi ke sebuah minimarket terdekat depan rumah sakit unttuk membeli cemilan dan minuman untuk menemani perjalanan pulang mereka. Namun sesaat setelah Zulaikha selesai berbelanja dan akan menyebrang, sebuah mobil melaju kencang dan sepertinya rem mobil itu rusak dengan spontan dan itungan detik, mobil itu menabrak Zulaikha yang berada di posisi yang benar.

“ZULAIKHA………..!!!!!!!!” Teriak sang bunda kepada Zulaikha, orang orang disekitar pun langsung berlarian menolong Zulaikha, siapa sangka baju putih bersihnya kini ternodai dengan bercak darah yang mengalir dari tubuh Zulaikha. Zulaikha langsung dibawa masuk ke dalam rumah sakit, diatas blangkar Zulaikha berucap. “ bunda, Zulaikha takut, Zulaikha gak mau ditinggal sendiri, Zulaikha mau bareng bareng sama ayah sama bunda. Zulaikha takut sendiri. Zulaikha mau pulang aja  gak mau disini.”

“ dokterr tolong bantu anak saya, saya mohon.” Ucap sang bunda sesaat setelah Zulaikha tak sadarkan diri. Akan tetapi, tidak ada harapan lagi bagi Zulaikha. Percakapan tadi adalah percakapan terakhir antara ibu dan anak bungsunya itu. Iyaaa, Zulaikha dinyatakan meninggal karena pendarah di otak nya.

Tidak menunggu lama, jenazah Zulaikha pun langsung dibawa ke rumah duka. Dan langsung dimakamkan keesekoan harinya. Rasa rindu yang Zulaikha tinggalkan kepada keluarga nya sungguh sangat menyakitkan, rindu yang tidak bisa diobati selain hanya lewat doa, teriakan di setiap penjuru ruangan tidak akan pernah terdengar lagi. Saat bunda masuk ke dalam kamar Zulaikha , bunda nya disambut oleh sebuah buku yang selalu menjadi tempat curhat anak bungsu nya itu.

“ sebenernya aku tidak benci keluarga ku, hanya saja cara keluarga ku mendidik ku kurang cocok untuk aku yang sering memberontak. Aku sangat bersyukur dilahirkan dikeluarga akbar ini. Walau pun sedikit ada kekangan tapi itulah ciri khas keluarga ini. Mungkin aku tidak akan menulis di buku ini lagi, karena sudah cukup keluh kesahku habis, berbarengan dengan sudah penuhnya isi tulisan dari buku ini. Siapapun diantara kalian yang membacanya, selamat kalian berhasil menjadi seorang pembaca buku pertama ku. Ada hal yang perlu kalian tau tentang aku, aku tidak menyukai suasana ramai, tetapi aku takut untuk ditinggal sendiri. Sampai bertemu lagi , dari aku Zulaikha akbar binti akbar.”

Tak terasa air mata bunda nya selalu keluar begitu saja tanpa bundanya sadari, jadi selama ini dia tak pernah mengeluh dan menerima pendapat itu, kesalahan besar. Dimana sosok seorang bunda pendengar yang baik bagi anaknya itu. Ternyata kalimat perpisahan di dalam buku itu benar benar menjadi kalimat perpisahan terakhir bagi Zulaikha.

Tetapi, penyesalahan hanyalah penyesalahan, tidak dapat diubah. Rasa bersalah semakin menjadi sesaat setelah bunda nya membaca curhatan anak bungsu nya disebuah buku.

***

 

 

Jam sudah menunjukan pukul 13.00 , suasana di sekitar pun ramai cuaca disekitar pun tidak terlalu panas dan tidak juga hujan.

“ bunda…,bunda…,bundaaa, bangun bun, bunda kenapaa, aduh bunnnnn?”

Khawatir Zulaikha pada sang bunda , Ketika Zulaikha melihat bunda nya tertidur namun terisak dalam tidur nya dan mengeluarkan air mata. Zulaikha kebingungan pasalnya, dia baru melihat orang yang tertidur namun terisak dalam tidurnya sampai-sampai mengeluarkan air mata.

“ ya allah, bundaa,kenapa susah bangun siiiii, pantes aja kaka kaka  banyak yang kembluk ternyata turunan dari bunda kali yaa?”

Ujar Zulaikha berbicara sendiri sambil menggoyangkan bahu sang bunda agar terbangun. Orang orang disekitar pun melirik Zulaikha yang kewalahan membangunkan bunda nya itu, sebentar lagi mobil travel yang akan di naiki oleh Zulaikha dan bunda nya akan segera berangkat.

“1..”

“2..”

“3..”

“bundaaaaaaaaaaaaaaa……..!!!”

“ astagfirullah, ya allah, ya Rahman, ya Rahim, lailahaillah muhammadarrasulullah..” sambil memegang kedua dada nya, dan terbangun dari tidurnya.

“ Zulaikha..? ini bener kamu sayang? Bunda gak mimpi kan? Ini beneran anak bunda kan? Zulaikha akbar? “ sambung sang bunda Ketika sudah terbangun dari tidurnya yang kembluk kalau kata Zulaikha.

“ihhhh Allahu akbar, bundaaa, kenapa sihh, iyyah ini Zulaikha, Zulaikha yang cantik dan baik hati, rajin menolong, rajin menabung. Gak mimpi bunnn enggakk. Ini Zulaikha anak bundaa.”

“ alhamdulillah ya allah, astagfirullah , dosa apa aku ya allah, sampai-sampai engkau memberi mimpi kepadaku semenakutkan itu, ampuni hamba mu ini ya allah.” Ucap sang bunda dalam hati

“ lagi bunda kenapa sih, tidurnya nyenyak banget, sampe susah dibangunin, mana tidur sambil nangis lagi. Bunda mimpi apa sih , mangkanya bun kalau tidur tuh baca doa dulu, capek boleh tapi inget siapa yang ngasih bunga tidur kita , allah kan sel, mangkanya biar terhindar dari mimpi-mimpi buruk berdoa dulu.”

“ iyyah sayang, makasih yah udah ngingetin bunda, bunda saking kecapean nya langsung tidur dimana aja.”

Jawab sang bunda, namun tidak memberitahu alasan dia menangis sambil tertidur tadi, khawatir malah menjadi pikiran anak nya yang tidak-tidak, karena bunda nya tau sekali anak bungsu nya ini memiliki sifat yang berbeda dari kakak-kakak nya yang lain. Zulaikha cenderung selalu menjadi orang yang pemikir, dan pada akhirnya anak merenung dan hari-hari yang dia jalani tidak akan penuh canda dan tawa.

“ yaudah deh bun, sekarang kita naik aja ke mobil, udah mau berangkat juga, nanti kita ketinggalan lagi sama mobilnya, kalau ketinggalan kan gimana”

“ iiyyah sayang ya ampun bawel banget sih anak bungsuku yang satu ini.”

 

Kebetulan kursi ku berada di dekat jendela, sebenarnya ini bukanlah sebuah kebetulah, tapi memang aku yang memesan nya dekat jendela hehehe. Vibes duduk di kursi dekat jendela pada saat berpergian itu memang beda dari yang lain. Galau nya dapet, padahal emang lagi gak ada hal yang di galauin. kalian gitu juga gak?

Suasana jalan tol tidak terlalu ramai, awan pun sudah tidak kuat menahan beratnya gumpalan uap uap yang sudah mereka serap yang mengakibatkan jatuhnya butiran butiran air dari atas turun ke bawah. Pasti diluar sana sejuk sekali, apalagi hujan nya jatuhnya tidak bergerombol, tetapi rintik-rintik. Wahhh sudah aku pastikan aku lah orang yang paling beruntung yang bisa menduduki kursi di dekat jendela ini. Butiran air yang jatuh dari atas ke bawah menempel di kaca mobil sehingga menambahkan kesan estetik nya perjalanan ini. Aku pun bergegas untuk mengambil gambar dari dalam mobil tersebut untuk kebutuhan snapgram. Hayoooo, jujur kalian semua juga termasuk orang orang yang bukan anti sosmed juga kan? Sejujurnya dulu aku sangat amat anti sosmed, buka sosmed pun tak sesering sekarang sekarang.

Selama perjalanan ini aku mendengarkan lagu kesukaan ku menggunakan earphone, sampai tanpa aku sadari aku malah tertidur pulas di perjalanan ini. Niat hati ingin menikmati setiap detik perjalanan ini, namun apalah daya, rasa kantuk itu tidak bisa dibohongi dan di alihkan.

“kha, bangun nak udah mau sampe nih sebentar lagi, bangun nya sekarang biar nanti pas turun udah gak lulungu lagi.”suara bunda membangunkan ku.

Sesaat setelahnya aku pun saampai di tempat tujuan akhir travel ini. Saat aku sudah menuruni mobil, aku sudah disambut dengan kehadiran ayah ku yang sedaang menanti ratu dan putri kesayangan nya.

“ ayahhh…!!!” tunggu dulu, itu bukan aku yang menyapa yah, melainkan bunda. Ya begitulah saat sudah Bersama atau bertemu ayah, bunda selalalu bereaaksi layaknya anak muda yang baru menikah hari kemarin. Tapi itu bukanlah masalah, malah aku menyukai sikap bunda yang seperti itu ke ayah, sangat terlihat sekali rasa sayang bunda yang tidak pernah ada habis-habisnya untuk suaminya itu. Tapiiiii……. ya gak diluar gini juga kan temen temen, khawatir banyak orang yang berpandangan berbeda dan malah berkomentar dan mengakibatkan terjadinya ain dalam hubungan bunda dan ayah. Kalau sudah sepperti itu kan bahaya juga.

“ bundaa, ih apa sih banyak orang yang liatin tau.” Desak Zulaikha sambil berbisik kepada bunda.

“hehe map yah, abis kangen banget udah gak sabar mau ngobrolin hasil tadi.”

“ masyallah alhamdulillah, 2 kesayangan ayah udah pada sampai dengan selamat. Yaudah gimana kalau sekarang kita makan aja dulu. Udah mau magrib juga sekalian sholat di dalem mall nya.” Ajak ayah kepada aku dan bunda, karena jujur saja untuk aku sendiri memang sudah tidak bisa lagi mentoleransi demo demo yang ada dalam perutku

“ ayah makan di hokben yu yah, udah lama banget Zulaikha gak makan hokben.” Ini adalah kesempatan ku sebagai anak untuk bisa menggunakan kartu as ku kepada ayah.

“ iyah nak boleh kok”

Nah kan apa yang aku bilang, ayah pasti akan menuruti kemauan ku, tetapi selalu ada yang sewot, siapa lagi kalau bukan bunda.

“ alahhh, kamu mah kesempatan aja mumpung ada ayah. “

“apa sih bunda ya allah cemburu banget sih ama anaknya sendiri, kapan lagikan Zulaikha bisa kaya gini, nanti nanti mah gak bisa Zulaikha kaya gini, jadi mumpung masih ada kesempatan, janganlah sia siakan kesempatan ini bun, inget.”

“ lah emangnya kamu mau kemana, sampe bilang gitu segala.”

“ ya mau nikah lah bundaa, masa Zulaikha mau single terus terusan, jadi nyamuknya ayah bunda terus-terusan. Gak mungkin kan.”

“ iyah deh zulaikha akbar, bunda salah.”

***

Sesampainya di tempat makan tujuanku, segera aku memesan menu yang ingin aku pesan untuk makan siang ku yang tertinggal tadi saat di bandung. Setelah semuanya selesai memesan aku, ayah, dan bunda segera menduduki tempat yang kosong. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, bisa makan enak bareng keluarga tercinta dalam keadaan Bahagia, orang tua sehat sehat. Aku tersenyum saat melihat interaksi bunda dan ayah yang mengobrol dengan dipenuhi canda dan tawa.

“ ya allah, sehatkanlah kedua orang tua ku, panjangkan lah umur keduanya, tambah kanlah rizki untuk keluargaku, ampunilah segala dosa-dosa mereka, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu aku kecil. Ya allah, besar harapanku Ketika kelak aku sudah dipertemukan dengan calon imam ku, aku mengiginkan hal hal baik yang selalu aku lihat dalam hubungan orang tua ku turun menjadi hal-hal yang baik bagi hubunganku kelak nanti. Sabarnya bunda menghadapi ke egoisan ayah, dan rasa sayanganya ayah kepada bunda yang tidak pernah ada batasnya. Semoga pada saat nanti aku menikah, ayah dan bunda masih bisa menyaksikan aku.” Doa ku dalam diam sambil melihat interaksi Bahagia mereka sambil tersenyum.

“ ayah, bunda Bahagia banget , alhamdulillah allah mengabulkan segala doa doa bunda. Atas izin allah bunda dinyatakan sembuh dan gak perlu balik lagi berobat ke bandung. Bunda Bahagia banget ayah.”

Ucap bunda sambil mengeluarkan air mata, tak lama ayah pun memeluk bunda sambal berbicara.

“ alhamdulillah ya allah, bunda makasih banyak yah udah mau berjuang sampe titik ini, sampai akhirnya allah menyatakan sembuh untuk Kesehatan bunda, ini suatu kehendak allah bagi hambanya yang mau sabar dan berusaha dalam segala hal apapun. Rasanya ayah sangat amat tidak menyesal bisa memilih dan meminang bunda sebagai istri ayah dan ibu dari anak-anak ayah. Makasih banyak yah bunda udah mau menerima lamaran khitbah ayah dan berakhir menjadi istri ayah.”

Hangat, itu yang aku lihat diantara interaksi ayah dan bunda, kapan lagi aku bisa melihat kisah mereka secara langsung ini. Akan aku ceritakan cerita ini kepada anak anak ku kelak, betapa sangat dicintai nya nenek kalian oleh kakek kalian.

Aku, bunda, dan ayah berkeliling mall , selain sekalian untuk belanja bulanan, ayah juga memberi hadiah untuk bunda. Dan tak terasa waktu pun sudah mulai larut. Aku, ayah, dan bunda pun bergegas untuk pulang ke rumah.

Diperjalanan aku melihat ada notifikasi permintaan pertemanan di instragram ku, dan dia adalah orang yang aku suka dari dulu. “ ini beneran gak sih? Apa aku yang halu” tanya ku dalam diam, tetapi aku tak langsung membuka aplikasi itu. “ nanti aja deh kalau di rumah.”

***

 

“ ayah, bunda, Zulaikha izin ke kamar duluan yah, mau bersih bersih badan terus tidur, soalnya udah malem juga dan capek hehe.”

“ iyyah sayang boleh, makasih banyak yah maaf selalu direpotin sama bunda, sini bunda mau peluk kamu dulu.”

Setelah adegan peluk memeluk aku pun bergegas pergi ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarku, dimana semua ekspresi selalu aku curahkan disana. Walau diluar sana hujan, tapi tubuhku kegegrahan, jadi aku memutuskan untuk mandi dan tak lupa juga keramas. Kalian tau, rutinitas keramasku sangat amat bertele tele, bukan tanpa alasan, karena dulu rambutku pernah rusak separah parahnya, dan ya sekarang ini aku tidak ingin kejadian itu terulang Kembali lagi.

“ huahhh, segarnya, sejuknya, ademnya badan kalau udah mandi, kalau udah kaya gini pasti tidurnya suka nyenyak juga.”

Selesai membersihkan badan dan skincare wajah, aku pun lanjut untuk tidur,eitss jangan harap aku langsung memejamkan kedua mata ku. Karena rasa penasaran di mobil tadi, aku jadi ingin membuka instrgram dulu, melihat notifikasi tadi, apakah benar dia mengikuti akun akua tau dia tidak sengaja kepo terharap akun ku dan tak sengaja ke klik mengkuti?

Dan boom benar saja, dia ternyata benar benar mengikuti akun instagramku

“ demi apa, seriusan gua di follow ama ni orang? Gua gak mimpikan? Ya allah ini beneran kan ya allah, dia gak kepencet mengikuti kan? Dia beneran follow kan ya allah dengan sengaja. Ya allah semoga aja ini Bahagia yang abadi bukan Bahagia yang semu dan Bahagia yang tertunda.”

“ aduh aduh gua harus gimana yah ini yah, gua ikutin balik aja apa yah, atau gimana yah ini, ya allah bigung banget.” Ya begitulah keriwehan seorang anak perempuan Bernama Zulaikha jika ada kabar yang membuatnya Bahagia. Sudah dipastikan hari hari selanjutnya akan jauh lebih berbunga-bunga dari hari sebelum-sebelumnya

“what.. dia menyukai snapgram gua? Wah wah gak bisa dibicarakan dengan baik baik ini, mau nangis ya allah, gua ikutin balik deh siapa tau besok dia nge dm kan nanyain kabar atau apalah itu Namanya, sekarang mending kita tidur dulu ya Zulaikha, semoga mimpi indah juga, kalau bisa mimpiin dia hehehe.”

Setelah ramai nya pembicaraan diri sendiri antara zulikha dengan Zulaikha, suasana kamar pun menjadi sunyi, yang terdengar hanyalah suara mesin ac lampu lampu pun dimatikan dikamar, karena ayah Zulaikha sendiri selalu mengarahkan kepada anak-anaknya untuk selalu mematikan lampu tidur dimalam hari, selain sunnah rasulullah sallahu’alaihi wasallam , mematikan lampu juga bisa membuat mata kita beristirahat.

***

Waktu sudah menunjukan jam 05.00, Zulaikha bergegas melakukan kewajiban nya yaitu sholat subuh. selelsai sholat subuh Zulaikha selalu melaksanakan dzikir pagi, itulah kebiasaan keluarga akbar, semua keluarganya diajarkan hal hal positif tentang beragama.

ting ting”

Suara notifikasi hp Zulaikha

“ dimana hp nya yah, lupa nyimpen lagi” ya begitulah Zulaikha selalu lupa menyimpan barang barang nya

“ nah ketemu juga” setelah menemukan hand phone nya itu , Zulaikha langsung mendudukan dirinya di tepi Kasur miliknya. Betapa terkejutnya Zulaikha sesaat setelah mengetahui notifikasi dari siapa yang dia dapatkan.

“ assalamualikum Zulaikha”

“ gimana nih kabarnya? Ayah bunda gimana kabarnya”

“ enggak mungkin sih ini ya allah, serius setelah dia mengikuti akun ini, dia dm gini? Coba bales aja kali yah? Bismilah deh semoga hal hal baik dateng terus terusan ya allah.”

“ waalaikumsalam, khalid”

“ alhamdulillah khair khalid, ayah bunda juga alhamdulillah baik, gimana kabarnya khalid sama keluarga? Tumben banget perasaan ada hal penting bukan?”

“ting..tingg”

“ hah ya allah, langsung dijawab lagi, lagi aktif.”

“ alhamdulillah baik juga, abba sama mamah juga baik alhamdulillah.”

“ enggak ko Zulaikha, iseng aja tadi waktu buka handphone dapet notif kalau Zulaikha mulai balik mengikuti khalid, jadi khalid dm aja. Kebetulan kan kita udah lama gak ketemu juga.”

“ ohh ya ampun, iyah yah udah lama banget gak ketemu, terakhir waktu acara nikahan itu. Zulaikha juga belum sadar kalau yang ngisi murottal itu khalid, sempet ada yang bilang sih ke Zulaikha. Zulaikha ngiranya itu bukan khalid, soalnya emang kan Zulaikha udah lama gak ketemu dan gak sadar juga sih.”

Khalid Rahim khan Namanya, dia merupakan masih saudara Zulaikha, namun kalau dalam susunan mahrom, khalid bukanlah mahrom nya Zulaikha, dan bisa dikatakan kalau memang berjodoh, mereka berdua bisa menikah. Sejujurnya Zulaikha sendiri sudah menyukai seorang lelaki Bernama khalid itu sejak dirinya berada di sekolah dasar. Wajahnya yang tampan seperti orang pakistan sesungguhnya, karena memang keluarga ayah adalah keturunan pakistan. Bagaimana Zulaikha tidak menyukai lelaki seperti khalid. Bertahun-tahun menyukai dalam diam, dan tidak pernah mengetahui kabar tentang nya, atas izin allah qodarullah allah mempertemukan Kembali mereka di dalam sebuah acara keluarga juga. Dan betapa amat sangat terkejutnya Zulaikha bahwa yang mengisi murottal di pernikahan sodara nya itu dalah lelaki yang menjadi pujaan nya selama bertahun-tahun ini. Kalau ditanya alasan Zulaikha menyukai lelaki itu…? Bahkan Zulaikha pun masih gelagapan menjawabnya , karena jujur saja tidak ada alasan pasti untuk menjelaskan kepada semua orang tentang rasa yang selama ini dia pendam sendiri, ntah dari tutur kata nya, sopan nya Ketika dia bertemu orang, ramahnya Ketika bertemu dengan anak kecil, karena jujur dia sangat menyukai anak-anak, dan rasa perhatiannya kepada keluarga nya. Point terpenting dari Zulaikha menyukai khalid ini adalah, bagaimamna dia bisa menjadi seorang penghafal al-quran. Lewat lantunan ayat yang dia bacakan itu akan mengalihkan semua keadaan disekitar, terdegar lembut, dan bisa membuat orang merasa tenang.

Mungkin dari alasan dia atas dapat di simpulkan bahwa ya Zulaikha menyukai khalid karena alasan alasan diatas, jadi bukan tanpa alasan, tetapi memang ada alasan bahkan saking banyaknya, Zulaikha bingung yang mana yang harus Zulaikha bicarakan.

***

 

Setelah berbulan-bulan lamanya, sekarang Zulaikha dan khalid sudah tidak secanggung dulu dulu. Bahkan dapat terlihat, bahwa khalid pun mulai membuka hati nya untuk Zulaikha. Mungkin ini kah cinta yang terbalaskan? Ini kah kisah yang dialami oleh ali dan Fatimah.

Hmmm, sungguh hari hari yang dilalui Zulaikha sekarang, semenjak kehadiran khalid, sangat penuh dengan bunga-bunga, Zulaikha selalu tidak sabar Ketika malam sudah tiba, karena malam menjadi rutinitas dia untuk saling mengobrol lewat dm Instagram.

“ Zulaikha, beberapa hari ke depan mungkin khalid gak akan bisa aktif terus-terusan kaya sekarang, khalid harus balik lagi ke pondok, untuk ngajar disana, dan kemungkinan terbesarnya khalid susah buat aktif media sosial disana.”

Kalimat ini yang sangat dihindari oleh seorang Zulaikha, ditinggalkan berbulan bulan lamanya. Bagaimana jika Zulaikha rindu dengan dia? Bagaimana jika dia sedang kesusahan dan memerlukan orang untuk tempat berkeluh kesah?

Selama ini Zulaikha sudah mencintai khalid berkali kali lipat dari sebelumnya, dimana apapun masalahnya khalid solusinya. Entah itu perkara kehidupan sehari hari , atau bahkan kehidupan dikeluarganya.

“ sampai kapan? Khalid balik lagi ke rumah bulan apa? Jadi Zulaikha ditinggal sendiri nih? Kalau Zulaikha rindu gimana nih hehe..”

“ doain aja, semoga apa yang menjadi doa Zulaikha, allah kabulkan, kemungkinan akhir puasa khalid baru bisa balik lagi ke rumah sampai lebaran nanti.”

Begitulah mereka, sudah mulai seperti seorang kekasih pada umunya, kalau ditanya tentang status hubungan mereka? Jawabannya belum ada status dan masih di gantung, baik di khalid maupun di Zulaikha sendiri.

“ baiklah kalau begitu, khalid sehat sehat terus yah disana, semoga kitab isa ngobrol lagi walaupun itu lewat dm, dan semoga kita bisa ketemu juga nanti. Semoga allah selalu ngelindungin khalid dimanapun khalid berada, dan semoga ilmu yang khalid sampaikan ke murid murid berkah terus dan jadi amal ibadah jariyah juga buat khalid sendiri yah, jangan lupain Zulaikha yah, inget terus sama Zulaikha disana.”

“ masyaallah, Zulaikha niat banget kayanya ngetiknya, iyah insyaallah khalid gak akan ngelupain Zulaikha ko, makasih banyak yah doa-doa yang udah Zulaikha ucap buat khalid kedepannya, semoga allah mendengar dan mengijabah segala doa-doa Zulaikha. Insyaallah juga nanti kita ketemu yah di lebaran nanti kalau emang ada umur.”

Itu adalah percakapan tersedih yang pernah Zulaikha dapatkan, rasa rindu nya sudah terbayangkan, akankah hari-hari yang selalu ia lewati Bersama khalid kemarin menjadi kekal? Atau malah sebaliknya? Zulaikha tidak mau melawan kehendak allah. Yang pasti sekarang dia harus bisa menerima keadaan bahwa dia akan ditinggalkan oleh khalid selama berbulan bulan lamanya.

***

“ perawan baru bangun jam segini, inget nanti gak ada yang malu oh sama kamu dek, masa sih calon istri, sama calon ibu bangun nya siang begini.”

Yahhh hari ini dirumah ada kaka trakhirku, Namanya Fatimah, dia merupakan teman berantemnya Zulaikha sedari dulu, tetapi Ketika Fatimah menikah Zulaikha lah orang yang paling menangasinya. Zulaikha kira setelah menikah, Fatimah tidak akan bertemu lagi dengan Zulaikha, karena terbatas oleh suami Fatimah sendiri. Namun itu dalah kesalahan besar, Fatimah dan suaminya memiliki rumah yang dekat dengan ummi nya, hanya terhalang enam rumah saja.

“ apa sih kak ah ribet banget deh, orang udah bangun dari tadi juga, cuman baru turun aja sekarang. Nih yah kak, Zulaikha itu udah bangun dari adzan subuh, lanjut beres-beres kamar, mandi diem, langsung turun kebawah.”

Kesal ku kepada kaka terakhir ku ini, begitulah dia, sifat julid yang dia miliki tidak tau turun dari ayah atau bunda.

“ emangnya kamu udah mandi? Kok gak keliatan udah mandi sih dek, coba-coba sini liat mukanya.” Sambal memegang kedua pipiku menggunakan tangan nya itu

“ ihhh…. Kaka Fatimah apaan sih, pegang pegang pipi, udah skincare an juga malah di pegang-pegang gimana kalau skincare skincare nya gak pada masuk ke wajah wajah Zulaikha, kan jadi sia-sia.”

“aduh aduh aduh, adek aku ini ngambek yah, mau apa mau apa biar kakak beliin supaya kamu yang ngambek.”

“ kakk ih apaan sih lebay deh ah, emangnya Zulaikha anak kecil apa.”

Aneh sekali memang, hari-hari ku tanpa khalid sekarang malah lebih suram, lebih bete dan lebih tidak bersemangat dari sebelum- sebelumnya.

Sekarang ini kaka keempat ku ini selalu ada dirumah ku karena dia dalam keadaan hamil. Dan suami nya sedang bekerja keluar kota selalu. Jadi bunda mengusulkan untuk kak Fatimah dirumah, khawatir Ketika di tinggal sendiri kak Fatimah melahirkan dan tidak ada orang yang membantunya. Jadi yang seperti itu sekarang keadaan rumah, ramai seperti di pasar, kak Fatimah yang selalu mengomentari segala hal yang aku lakukan dan aku yang selalu membalas dari komentar kak Fatimah, dan tentu saja bunda yang selalu menjadi penengah dinatara kita berdua.

“Fatimah, rencana kamu kapan lahirannya, bunda rasa bunda belum tau jadwal kamu lahira.”

Tanya bunda yang sudah dipastikan tidak sabar menunggu kehadirang cucu pertamanya dari kakak ke empatku ini.

“kalau kata dokter sih minggu-minggu ini bund, cuman Fatimah belom tau apakah harus saecar atau normal. Soalnya kemarin kan kepala bayi nya masih diatas belom dibawah, tapi terakhirudah dibawah bund. Semoga aja yang terbaik buat Fatimah, minta doanya yah bund, buat kelancaran, dan Kesehatan Fatimah nanti lahiran.”

“ aamiin sayang, insyaallah allah bakal bantu anak bunda, kamu jangan lupa berdoa yang bener bener ke allah buat kelancaran Kesehatan kamu. Mau itu saecar mau itu normal itu udah menjadi kehendak allah, dan itu udah ketentuan dan pilihan allah yang paling baik buat kamu dan bayi kamu. Zaman sekarang ini, saecar udah bukan lagi hal yang aneh, yang terpenting sama sama ngelahirin ko.”

“ tapi bunda, Fatimah khawatir banget, banyaknya omongan diluar sana buat Fatimah jadi gak percaya diri.” Tanya kak Fatimah dengan wajah sedih, khawatir dan gelisah, sangat amat terlihat jelas di wajahnya.

“ sayang, denger bunda yah, orang orang itu hanya bisa berkomentar saja, tanpa tau bagaimamna yang terbaik buat kita, inget ada allah, berdoa aja sama allah semoga kamu dikasih kesadaran yang sangat berlimpah sama allah buat menghadapi orang orang yang hanya bisa berkomentar itu. Insyalah mau apapun itu keputusannya, itu yang terbaik buat kamu dari allah. Ada bunda, ada ayah, ada Zulaikha disini yang bakal bantu kamu nanti, jangan sedih yah, kalau kamu terus terusan kaya gini kasian bayi kamu di dalam perut iut sedih juga. Kita harus sambut dia dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan ya sayang.” Sabar bunda menjelaskan semua jawaban dari dari apa yang sudah kak Fatimah sampaikan ke bunda. Aku sangat berharap kelak nanti Ketika aku sudah menemui calon imamku, lalu menikah, dan mengandung, perhatian bunda akan seperti perhatian bunda kepada kak Fatimah, karena kalau bkan ke bunda maka aku ke siapa?. Ah sedih rasanya jika mengingat ke arah sana.

“ iyyah bunda, makasih banyak yah, maaf Fatimah selalu merepotkan bunda setiap hari, bunda udah mau sabar menghadapi sifat Fatimah yang kaya gini, padahal seharusnya Fatimah sudah lebih dewasa, tapi disini Fatimah masih tergantung ke bunda.”

“ hey, sayang gak boleh bilang kaya gitu, udah bunda ikhlas ngebantu kamu yah, kita sama sama.”

“ makasih banyak yah bunda.”

***

Sudah 2 minggu lamanya setelah percakapan antara kak Fatimah dan bunda, tetapi kaka memang belom ada rasa sakit di perutnya.

“ assalamualikum, bunda” suara kak Fatimah dateng ke rumah dan langsung mencari bunda.

“ bunda nya di wc kak kenapa?”

“ enggak nanti aja nunggu bunda.”

Tak lama datang lah bunda dari dekat wc

“tumben kamu kesini jam segini, kenapa?” tanya bunda kepada kak Fatimah

“ bunda, tadi Fatimah udah control dan keputusan dari dokter hari senin nanti Fatimah harus saecar, bayi Fatimah juga udah terlalu besar 3,7 khawatir Fatimah gak bisa melahirkan normal, dan bayi nya terus terusan gede di dalem, jadi dokter menyarankan buat di operasi bunda.”

Jujur aku sedikit terkejut,namun ya begitulah

“ iyyah gapapa sayang, mungkin ini udah yang terbaik buat kamu dan bayi juga, sekarang siapin diri kamu dulu aja buat lahiran kamu yah.”

***

Seminggu telah berlalu semenjak kelahiran kak Fatimah itu, alhamdulillah atas izin allah kak Fatimah melahirkan anak laki-laki

“ kak Fatimah, Zulaikha izin bikin snapgram yah poto anak kamu, tapi bakal Zulaikha tutup ko mukanya.”

“ iyyah boleh tapi bener tutup yah, takutnya ntar kena ain nauzubillah.”

Setelah meng upload snapgram , aku segera mengendong anak kak Fatimah lagi, namun saat sedang mnegendong ada notifikasi

“ting..ting”

“apa…………”

“suttttttt….., kamu kenapa sih anak aku nanti bangun.”

“hehe map map kak, yaudah nih anak kamu aku kasih kekamu, akua da urusan mendadak dulu harus ke kamar.” Buru buru aku langsung memberikan anak bayi yang lucu itu kepada ibunya. Dan aku bergegas lari ke kamar.

“ ya allah zulaikhaa, kalau naik tangga hati-hati dong nanti kamu jatuh , kebiasaan deh kamu mah.”

“ MAAP BUNDA” jawabku dengan lantang dari atas

Sesampainya aku dikamar, aku lanjut menjawab pesan DM ynag ada di handphone ku, siapa lagi akalu bukan dari khalid.

“ bukannya dia pulangnya blan nanti yah masih tersisa 3 bulan ini, aduhh gimana ini, baper aku.”

“ kak Fatimah udah lahiran? Cewe cowo”

“ iyyah nih lid alhamdulillah udah lahiran, walaupun banyak ujian yang enggak di sangka sangka, tapi alhamdulillah lancer juga. Alhamdulillah cowo lid.”

“ subhanallah, kalau ujian kaya gitu mah pasti ada aja gak sih dalam setiap keadaan, masyaallah yah semoga menjadi anak yang sholeh, serta menjadi syafaat terbaik bagi kedua orang tua nya nanti.”

“ aamiin , makasih yah khalid, oh iyyah ko aktif sosmed sih, bukannya masih ada waktu 3 bulan lagi yah?”

“hahaha, iyyah nih qodarullah harus balik ke rumah ada urusan yang susah dijelasin.”

“Zulaikha, khalid mau bilang ke zulaikha, dalam 2 tahun ke depan, khalid punya rencana buat kita berdua, jadi tunggu 2 taun yah.”

Enggak,enggak,enggak , ini gak mungkin , rencana apa yang dia maksud ya allah, ngelamar kah  atau mau nikahin aku? Ya allah hati ini menjadi tidak karuan seperti ini ya allah. Jujur aku malah bimbang karena tulisan pesan yang disampaikan oleh khalid kepadaku, rencana apa yang menjadi maksud tujuan khalid.

“rencana apa lid? Emangnya gak bisa di obrolin sekarang?”

“enggak bisa, untuk sekarang itu terlalu dini.”

“ baiklah ditunggu 2 tahun nya.”

***

Dua tahun telah berlalu, apakabar tentang janji yang khalid janjikan untuk ku selama ini sudah menjadi debu. Rasa sakit hati yang dia sampaikan kepadaku sangat membuatku kehilangan arah, bagaimana tidak. Secara terang-terangan aku tau hubungan dia Bersama perempuan lain. Yang paling membuatku sakit pada saat aku melihat akun Instagram mereka saling berhubungan satu sama lain. Kalimatnya sungguh manis, tetapi sangat menyakitkan.

Beberapa bulan setelah sampai di dua tahun lamanya menunggu…

“ hai khalid? Udah dua tahun nih, jadi apa nih janji khalid buat Zulaikha? Penasaran banget.”

“ semoga khalid bisa tepat janji sama yang pernah khalid janjiin yah, dan semoga khalid tau rasanya diberi harapan lalu ditinggalkan tanpa kabar.”

Aku Lelah dengan semuanya, harapan, keinginan, dan cita-cita sudah hancur dengan begitu saja. Bahkan jawaban untuk menjelaskan alasan mengapa tidak menepati janji pun tidak ada. Ini aku yang terlalu bodoh mencintai, atau memang dia yang terlalu menyepelekan  janji.

Minggu depan itu adalah hari pernikahan saudara ku, dan sudah dipastikan khalid datang. Dan aku belum bisa siap untuk bertemu dengan dia. Masih ada rasa sakit hati yang membekas dan mendalam di dalam hati.

“ Zulaikha, baju kamu udah selesai belum baju nya?” tanya bunda kepada aku, karena baju yang di jahit tidak di tukang yang sama dengan bunda. Kaena aku mempunyai tukang jahit andalanku sedari dulu.

“ udah bunda mau liat gak bun bajunya, bagus tau.”

“ masyallah , iyyah bener bagus banget, emang gak salah kamu ngejahit disana. Udah kaya kamu aja ini pengantin nya. Semoga allah menyegerakan yah sayang.” Deg, ucapan bunda membuat hati ku tertusuk. Teringat akan janji seorang lelaki Bernama khalid benarkah janji di aitu akan melamarku atau itu hanya tebakanku saja. Ya allah hamba serahkan segalanya dan memasrahkan segalanya hanya kepadamu.

***

“ya ampun kha, udah lama gak ketemu, makin cantik aja, ayo nyusul nikah, udah ada calon nya belum? Tuh nganggur satu tuh kek nya kalian cocok.”

Tidak anh Namanya juga pengantin baru, pasti arah obrolannya kesana. Saat aku mengalihkan pandangan ku kearah yang ditunjuk oleh saudara ku adalah khalid.

“ ahh, kamu bisa aja, enggak lah dia ada calon , masa iyakan kita rebut.”

“ kalaupun di sandingin pasti kamu pemenagnya kha.”

“hush, ah udah gak baik ngomong gitu, pokoknya doain aja ya buat aku dan masa depanku. Ngomong-ngomong barakallahulaka wabaraka alaika wajama bainahumma fi khair yah, buat kamu dan sekeluarga, semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawaddah dan warahmah.”

“aamiin yaa mujibas sailiin, makasih banyak yah Zulaikha, doa terbaik buat kamu dan sekeluarga.”

 

Setelah turun bersalaman dengan penganti, aku segera pergi ke tempat makanan. Kalian paling suka masakan apa kalau di undagan? Kalau aku sih nasi kebuli, rendang dengan buah buahan nya, ah sdah pasti nikmat sekali. Saat aku duduk dibagian VIP ada sseorang yang menghampiriku.

“ setelah makan, bisakah kita mnegobrol untuk menyelesaikan permasalahan yang belum kita selesaikan?” bisik dia tepat di telingan sebelah kananku sontak aku terkaget mendengar suara nya.

“ maksud kamu? Enggak bisa, kalau yang lain liat gimana? Enggak ada yang harus kita selesaikan, karena semua masalah yang belum selesai itu ada dikamu. Sekarang lebih baik kamu jauh-jauh dari aku.” Amarahku memuncak saat mendengar omongan dia yang tidak sesuai fakta menurut ku. Kalau dahulu ucapannya adalah candu bagiku, berbeda dengan sekarang, hanya amarah yag keluar dari mulutku.

“ kamu gak bisa kaya gitu kha, pokoknya aku tunggu kamu sekarang setelah kamu selesai makan untuk menemuiku di belakang , dekat kolam berenang disana ada tempat duduk, kita akan berbicara dan menyelesaikan semuanya disana. Ingat aku tidak menerima penolakan.”

Sungguh dimana letak kesopanan yang ada pada diri dia dulu, dia jauh berbeda dengan khalid yang aku kenal. Bahkan untuk menyapa nya pun sesuatu hal yang tidak akan pernah aku lakukan lagi. Mengapa dia menjadi seperti ini, pertanyaan yang selalu aku pertanyakan pada diriku sendiri.

Tidak lama kemudian …

“ ayo ikut..” yaa, benar sekali khalid menarik tanganku

“ lid sakit jangan ditarik kaya gini, maksud kamu apa sih.” Ucapku saat khalid menarik tanganku

“ lid, kalau ketemu sodara yang lain kaya gimana, khalid mohon banget lepasin tangan aku, khalid kamu dneger aku kan lid, lid lepasin lid lepasin. Khalid……..!!!” akhirnya akupun berteriak dan khalid berhasil melepas tanganku, tetapi bukan karena teriakanku, melainkan karena tempat tujuan kita sudah sampai.

“ sekarang, khalid tanya? Zulaikha bener ada rasa kan? Jawab kha?” ah sungguh selama ini dia kemana saja dan baru menyadari nya sekarang, setelah dia mempunyai wanitia lain selain aku, dan disaat aku sudah lupa rasanya mencintai seseorang yang kita sayang itu seperti apa.

“ jangan harap ada jawaban iyyah yang aku ucap dari mulutku ini, karena jawaban dari semua pertanyaan mu itu sudah tidak ada jawabnya lagi.” Nada aku mulai menaik

“kha, aku mohon jawaban kamu akan menjadi keputusanku untuk kedepannya.”

“ lid, keputusan apa yang kamu maksud? Keputusan untuk menjalin kehidupan yang lebih serius laginke depannya, dengan memilih mana yang terbaik untuk kamu antara akua tau sofie, iyyah? Jangan pernah menjanjikan seseorang apalagi janjinya ini sangat amat fatal. Kamu tau kan hukum memberi janji kepada orang itu seperti apa? Kamu bahkan jauh lebih faham dibandingkan aku? Tapi mana, dua tahun lamanya aku menunggu jawaban dari janji kamu, tapia pa yang aku dapatkan? Enggak ada lid. Menagih pun sudah dan pernah aku lakukankan, tapi ayang aku dapatkan hanyalah berita buruk. Kamu malah secara terang-terangan memmpunyai kesamaan bio instragram dengan Wanita lain. Memang ini hal sepele, tapi apa kamu sadar dengan janji kamu sebelumnya? Atau kamu menggap janji yang kamu ucapkan itu hanyalah sebuah candaan?”

“ kha, ada alasan lain yang aku gak bisa jelaskan ke kamu sekarang. Yang lalu biarlah berlalu, yang aku butuhkan sekarang hanyalah jawaban kamu tentang perasaan yang kamu.”

“ dan yang aku butuhkan hanyalah jawaban dari penantian panjangku selama dua tahun itu. Tetapi itu tidak berlaku untuk saat ini. Dua tahunnya nya sudah lewat, dan aku sudah melupakan semuanya. Rasa sayang aku ke kamu, rasa perhatian aku ke kamu, dan rasa percaya kepada semua apa yang kamu ucap.”

“ kha, allah aja maha pemaaf, masa kamu sebagai hambanya aja gak mau maafin aku?”

“ stop menyangkut pautkan allah kalau kamu sebagai hambanya saja tidak pernah menuruti apa yang sudah jelas jelas allah sampaikan kepada hambanya. Kamu tau ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, dan salah satunya adalah Ketika dia berjanji dia ingkar. Disini kamu selain membuat aku sakit dan jatuh terpuruk, kamu sudah menjadi orang yang menjadi salah satu ciri-ciri itu. Sekarang urusi saja urusan mu sendiri.” Aku terisak, sakit rasanya Ketika kita sudah memendam rasa kesal tu lamanya dan baru bisa tersampaikan, niat ingin elupakan namun malah terungkap Kembali.

“aku ikhlaskan, dan aku lepaskan kamu sekarang. Apa yang menjadi keinginanmu silahkan lakukan, kamu ingin memilih orang itu silahkan jalani hubungan dengan dia. Aku harap perempuan itu tidak mngalami hal yang sama, seperti yang aku alami selama menjalin hubungan bersamu. Izinkan aku untuk bisa berdamai dengan masalah kemarin. Aku ingin lupa dengan semuanya, rasanya sia-sia kehidupanku kemarin, dan sangat membuang-buang waktu.”

“tapii, kha, aku ingin melarmu dan menjadikan mu sebagai istriku.”

Khalidd, mengapa bukan di dua tahun kemarin, sakit rasanya, ucapan nya itu membuatku semakin terisak.

“ kha , aku mohon.” Allah, lembut sekali suaranya sama seperti tahun-tahun lalu sebelum dia berkhianat.

“ tidak untuk sekarang, karena semuanya sudah terlanjur, bahkan kamu pun belum menghapus bio yang sama dengan dia, itu artinya kalian juga masih memliki hubungan kan. Sekarang lebih baik kamu lamar dan nikahi dia saja. Mungkin untuk saat ini dia lebih membutuhkan mu disbanding aku yang sudah memiliki hubungan apa apa lagi dengan kamu selain sebatas saudara dalam keluarga. Aku kubur semua harapan dan impianku selama aku menjalin hubungan denganmu. Terimakasih telah menjadi penyemangat dalam hidupku, tanpa kamu aku mungkin tidak akan pernah tau rasanya sabar itu seperti apa. Terimakasih karena khalid pernah datang untuk menjadi orang yang selalu hadir dalam situasi apapun yang pernah Zulaikha alami.”

“sekarang, Zulaikha izin pamit, semoga ini bisa menyelesaikan semua hal yang pernah menjadi penghalang bagi kita untuk berinteraksi.” Sambungku

Stelah obrolan Panjang itu, aku Kembali masuk ke dalam, tetpai bukan ke tempat acara, melainkan ke dalam kamar ku, karena acara nya di hotel.

Di dalam kamar aku menangis sejadi jadinya, dan berharap tangisan ini menjadi peyembuh rasa sakit ku selama ini dan tidak ada lagi isak tangis yang diakibatkan oleh masalah ini lagi.

selamat tinggal masa lalu yang inda, terimakasih karena pernah singgah namun tak sungguh….

 

 

 

Postingan populer dari blog ini

Menganalisis short story : A Rose For Emily by William Faulkner